Syukur Kita adalah Tentang Pembandingnya

Bersyukur

Dalam suatu perjalanan, berbincang ke sana juga tak lupa kemari. Hingga perbincangan sampai pada suatu tepian cerita. Yang berhulu pada besarnya anggaran kebutuhan dan walhasil bermuara pada besarnya pendapatan. Topik yang tiada habisnya, selalu hangat dan bernas.

Bercerita tentang kawan yang mampu untuk begitu-begitu. Sedangkan kita hanya sampai begini-begini. Soal kawan yang sanggup seperti itu. Sedang kita hanya sampai seperti ini. Tentang kawan yang berhasil menempuh itu. Sedang kita hanya cukup sampai di sini.

Bahwa ternyata ada yang mampu untuk sampai pada titik tertentu. Yang bagi kita masih di awang-awang saja, sulit difikirkan, tak mampu diwujudkan, berakhir pada fikiran yang tiada karuan.

Tapi walhamdulillah fikiran itu terhenti, bukan karena adanya negara api yang menyerang, tetapi karena adanya pelajaran yang terserak di sepanjang perjalanan.

***

Cerita punya cerita, saya menemani kawan untuk survei kondisi anak didiknya. Survei lokasi ini ditujukan untuk melihat kondisi keluarga dan cross check info. Info yang hendak di-cross check adalah tentang demografi, kemampuan dan beban yang ditanggung oleh keluarga.

Lokasi yang kami tempuh masih di pulau jawa saja. Soal detail lokasi tak usahlah saya sampaikan. Clue nya adalah: Jawa.

Singkat cerita kami sudah menempuh satu per satu daftar anak didik yang hendak disurvei. Melihat kondisi rumah, melihat kondisi jalan menuju lokasi, melihat kondisi keluarga, mendengar cerita dan melihat fakta.

Di satu lokasi kami diberikan cerita, bahwa hidup memang tidak mudah. Ada yang diuji dengan perlu meninggalkan keluarga berpuluh tahun. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, makan, tempat tinggal, sekolah. Ke Luar negeri: tiada pulang berpuluh tahun, bahkan ada yang pulang hanya memulangkan jasadnya saja. Meninggal dunia.

Di lokasi lainnya, jalan yang kami tempuh sungguh menantang. Sempitnya medan menuju lokasi, kondisi jalan yang jeblok, sedangkan papasan antara mobil dengan motor saja tidak bisa. Walhasil mobil yang membawa kami terhenti, dan biarlah kami membonceng motor saja. Motoran menuju lokasi keluarga.

Di lokasi yang lain juga, alamat yang diberikan ternyata sudah merupakan hanya berisikan bongkahan bata, dan pecahan-pecahan kayu. Rumah sudah roboh.

Bahwa Allah sudah memberi pelajaran besar untuk perjalanan ini. Syukur, syukur!

***

Di rumah, selepas pulang dari kantor. Kadang kali, ada kerja di luar kantor yang saya kerjakan, mengerjakan unofficial job istilahnya. Seperti semasa masih sekolah dulu, menyambi mengerjakan kerja lain. Walau sekarang sudah minim sekali. Dulu saat masih sekolah senang luar biasa, bisa ada hasil di luar yang biasa ada. Tapi lama nya lama, getaran syukur itu beda, tidak seperti dulu.

Jangan terlalu sibuk membanding di atas, sehingga lupa membanding di bawah. Memang benar syukur kita tentang bagaimana kita melihat pembandingnya.

Hasil yang sama, tapi beda rasa. Peluh yang sama, tapi beda gembira. Kemudahan demi kemudahan yang diberikan oleh Sang Maha Kuasa, tapi lupa syukurnya, lalu di mana letak berkahnya? Ya Rabb ya Karim.

***

اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
ALLAHUMMA A’INNI ‘ALA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBADATIK [Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berdzikir/mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu]

gambar: penulispro.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *