<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Namaku Wirawan, Adi Wirawan &#187; girl</title>
	<atom:link href="http://adiwirawan.net/post/tag/girl/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://adiwirawan.net</link>
	<description>Begins with a prayer ends with victory</description>
	<lastBuildDate>Sun, 15 Jan 2012 09:28:37 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kita bukanlah Kita</title>
		<link>http://adiwirawan.net/post/kita-bukanlah-kita/</link>
		<comments>http://adiwirawan.net/post/kita-bukanlah-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 02:02:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Wirawan!</dc:creator>
				<category><![CDATA[sasana]]></category>
		<category><![CDATA[girl]]></category>
		<category><![CDATA[little]]></category>
		<category><![CDATA[pianist]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adiwirawan.net/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Dan mari saja kita duduk bersama dan kembali bercerita tentang seorang gadis kecil di panggung piano.
Ketika seorang gadis kecil kembali ber-malu malu mengetahui bahwa dirinya harus tampil di atas panggung dengan jutaan pasang mata menatap dirinya. Sendiri, tidak berdaya, dan malu malu. Dan langkah kaki mungilnya pun akhirnya menginjak papan panggung yang dingin, datar dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 147px"><img title="little girl" src="http://farm1.static.flickr.com/28/52681459_f4dea3198a.jpg" alt="little girl" width="137" height="143" /><p class="wp-caption-text">little girl</p></div>
<p>Dan mari saja kita duduk bersama dan kembali bercerita tentang seorang gadis kecil di panggung piano.</p>
<p>Ketika seorang gadis kecil kembali ber-malu malu mengetahui bahwa dirinya harus tampil di atas panggung dengan jutaan pasang mata menatap dirinya. Sendiri, tidak berdaya, dan malu malu. Dan langkah kaki mungilnya pun akhirnya menginjak papan panggung yang dingin, datar dan sombong.</p>
<p>Sebuah lentikan awal menyentuh papan piano yang besar itu, dan suara pun mulai menggema, mengangkasa, menyeruak di segala sisi ruang. Suara piano yang berawal dari lentikan jari-jari pun mulai bertaburan membuat ruangan bergemuruh. Dan semua pun mulai tertegun. Semua orang mulai menatap gadis kecil dengan piano besar di depan badan kecilnya. Mungkinkah semua orang berdecak kagum? Mungkinkah semua orang terpana dengan keahlian si gadis kecil itu?</p>
<p>Kagum? Tidak! Kaget lebih tepatnya, bahwa hanya untuk melihat gadis yang jauh dari kata lancar mereka harus berduyun-duyun untuk hal yang tidak masuk akal. Melihat betapa susunan lentikan nada piano dari si gadis hanya membuat telinga merah menganga, tidak berpola, rusak.<span id="more-57"></span></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 156px"><img title="pianist" src="http://www.americangirlinkuwait.com/sitebuildercontent/sitebuilderpictures/pianist.hands.JPG" alt="pianist" width="146" height="168" /><p class="wp-caption-text">pianist</p></div>
<p>Melihat ada sesuatu yang berjalan tidak benar, ketika semua orang sudah mulai gusar, ketika semua orang sudah mulai ribut, memaki gadis yang hanya membuat suasana menjadi kalut. Seorang pianis senior dengan keahlian tiada tara dengan jari yang mampu bergerak sendiri mengikuti alunan alam, tergerak untuk memperbaiki keributan, kekalutan, kekacauan suasana yang dinisbatkan oleh si gadis kecil tersebut.</p>
<p>Dan lantunan piano dari pianis yang handal pun mulai berangkat mengiringi keributan dari si gadis kecil, ketidakpolanan dari piano si gadis diimbangi dengan lantunan handal dari sang pianis yang juga handal. Bersahutan lah lantunan piano dari keduanya. Menjadilah hiburan yang menyenangkan, sahut menyahut cantik terjadi, seakan dialog mulai terjadi. Luar biasa, mengagumkan dan mencukupkan.</p>
<p>Tepukan tangan puas dari penonton-pun jadi keniscayaan, mereka puas, mereka senang,  bangga dan berseri-seri. Segala pujian dan sanjungan muncul begitu saja. Melihat pertunjukkan yang membumi dan membawa jiwa tersegarkan kembali.</p>
<p>Tapi sang pianis handal enggan menampakkan dirinya, dia tetap tidak terlihat, di belakang panggung, unseen. Jadilah si gadis menyangka bawah dirinya lah yang membuat pertunjukkan piano hebat ini. Si gadis tertawa lebar mendapati bahwa dirinya telah berhasil mensukseskan berjalannya penampilan panggung ini. Jumawa!</p>
<p>Maka coba katakan pada gadis kecil nan jumawa itu untuk segera paham, untuk segersa taslim, untuk segera sadar diri, untuk segera tahu bahwa ada kekuatan di luar dirinya yang menjadikan kejadian terlihat luar biasa di semua mata. Ada tenaga yang ternyata tidak terlihat membungkus kekacauan yang sebenarnya telah terjadi.</p>
<p>Dan kalau kita masih merasa seperti gadis kecil ini, merasa jumawa dengan diri sendiri maka segera sadarlah bahwa ternyata kekuatan lainlah yang sebenarnya membuat kita menjadi kita. Karena sebenarnya kita bukanlah kita.</p>
<p>images taken from : http://www.americangirlinkuwait.com &amp; http://flickr.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adiwirawan.net/post/kita-bukanlah-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- www.000webhost.com Analytics Code -->
<script type="text/javascript" src="http://analytics.hosting24.com/count.php"></script>
<noscript><a href="http://www.hosting24.com/"><img src="http://analytics.hosting24.com/count.php" alt="web hosting" /></a></noscript>
<!-- End Of Analytics Code -->

