<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Namaku Wirawan, Adi Wirawan &#187; sasana</title>
	<atom:link href="http://adiwirawan.net/post/category/sasana/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://adiwirawan.net</link>
	<description>Begins with a prayer ends with victory</description>
	<lastBuildDate>Sun, 15 Jan 2012 09:28:37 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Taman, penjara</title>
		<link>http://adiwirawan.net/post/taman-penjara/</link>
		<comments>http://adiwirawan.net/post/taman-penjara/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2011 05:58:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Wirawan!</dc:creator>
				<category><![CDATA[sasana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adiwirawan.net/post/taman-penjara/</guid>
		<description><![CDATA[Dan pada saatnya aku bercerita tentang akan adanya penjara di jalan-jalan menuju taman, belum jelas memang, apakah taman ataukah hanya sebidang penjara lain yang dibalut kata cerita sehingga terlihat seperti taman sedianya.Tapi tetap saja, tampaknya ini adalah jalan menuju taman. Terhias semburat jingga yang mengukir di setiap pojok tanah basah. Gemerlap, cemerlang, bahkan sering diceritakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dan pada saatnya aku bercerita tentang akan adanya penjara di jalan-jalan menuju taman, belum jelas memang, apakah taman ataukah hanya sebidang penjara lain yang dibalut kata cerita sehingga terlihat seperti taman sedianya.<span id="more-140"></span>Tapi tetap saja, tampaknya ini adalah jalan menuju taman. Terhias semburat jingga yang mengukir di setiap pojok tanah basah. Gemerlap, cemerlang, bahkan sering diceritakan indah lebih dari nyatanya. Oleh manusia-manusia yang belum juga pernah melewatinya. Mungkin saja.</p>
<p>Dan inilah taman ini, tamanku, taman kita, tapi belum tentu juga tamanku sama dengan tamanmu nantinya.</p>
<p>Dan inilah juga penjara ini, penjara yang harus dilewati untuk tamanku, penjaraku, penjara kita, tapi belum tentu juga sama antara penjaraku kini dengan penjara mu dahulunya.</p>
<p>Ada saja ragu, ada saja kelu, tapi mungkin ingatan tentang taman yang akan tertuju derita penjara jadi tertiada. Meski keranda sendiri mulai mengitari, meski nyatanya pagar penjara sama kuatnya dengan besarnya sengsara. Kejam!</p>
<p>Kelihatan kejam, dan aku samar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adiwirawan.net/post/taman-penjara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sang Pencerah &#8211; Seberapa Kita Menjadi Tercerah</title>
		<link>http://adiwirawan.net/post/sang-pencerah-seberapa-kita-menjadi-tercerah/</link>
		<comments>http://adiwirawan.net/post/sang-pencerah-seberapa-kita-menjadi-tercerah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Sep 2010 23:02:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Wirawan!</dc:creator>
				<category><![CDATA[one day]]></category>
		<category><![CDATA[sasana]]></category>
		<category><![CDATA[Movie]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Sang Pencerah]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adiwirawan.net/post/sang-pencerah-seberapa-kita-menjadi-tercerah/</guid>
		<description><![CDATA[
Sekiranya yang namanya sejarah tentunya akan terulang.
Adalah cerita tentang Muhammad Darwis ( Ihsan Taroreh ), pria muda yang selalu menempatkan pikiran selalu haus akan kebenaran. &#8216;Kehausan&#8217; ini pulalah yang mendorong Darwis muda untuk melenggang menuju Mekkah untuk menuntut Ilmu agama, agama Islam tentunya.
Sepulang dari Mekkah, Muhammad Darwis mengganti nama menjadi Ahmad Dahlan.
Merasa hal yang tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://adiwirawan.net/wp-content/uploads/2010/09/sang-pencerah.jpg" alt="Sang Pencerah Cover" /></p>
<blockquote><p>Sekiranya yang namanya sejarah tentunya akan terulang.</p></blockquote>
<p>Adalah cerita tentang Muhammad Darwis ( Ihsan Taroreh ), pria muda yang selalu menempatkan pikiran selalu haus akan kebenaran. &#8216;Kehausan&#8217; ini pulalah yang mendorong Darwis muda untuk melenggang menuju Mekkah untuk menuntut Ilmu agama, agama Islam tentunya.<span id="more-104"></span></p>
<p>Sepulang dari Mekkah, Muhammad Darwis mengganti nama menjadi Ahmad Dahlan.</p>
<p>Merasa hal yang tidak selayaknya mengakar terjadi di masyarakat, dari mulai penentuan arah Kiblat, budaya yang menuju ke arah Bid&#8217;ah / Sesat, K.H. Ahmad Dahlan merasa prihatin yang sangat dan tergerak untuk melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan. Ulama kafir! akhirnya bersemat juga menjadi sebuah julukan yang mengakar di dirinya : sebuah konsekuensi dari orang yang berbeda.</p>
<p>Dan kerja keras K.H. Ahmad Dahlan pun dimulai, kerja keras yang diiringi tangis, keringat. Beruntung K.H.Ahmad Dahlan masih punya Allah, cita-cita, keinginan, beberapa kerabat dan Istri yang selalu ada untuknya. Yang akhirnya mengantarkan K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah (yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad) sebagai organisasi sosial.</p>
<p>Dan apakah cerita di film ini hanya reka-reka Hanung Bramantyo saja untuk menanggapi isu yang terjadi sekarang? Tentunya bukan, studi literatur, studi narasumber masih mengiringi berjalannya cerita di film ini.</p>
<p>Silahkan terhibur dengan menonton Film ini, silahkan membuat review, silahkan membuat kritikan tentang film ini, silahkan mencocokkan kondisi di film dengan kondisi masyarakat saat ini, silahkan melihat bahwa sejarah saat ini memang terulang, silahkan membuat kesimpulan inti yang membuat kita <strong>Tercerahkan</strong>.</p>
<p>Setiap kesimpulan akan berbeda tentunya di setiap mata, kepala dan jiwa.</p>
<p>cc : <a href="http://parisberkata.getux.com/" target="_blank">Eko Paris</a> , <a href="http://masmoe.wordpress.com/" target="_blank">Fajar Nugroho</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adiwirawan.net/post/sang-pencerah-seberapa-kita-menjadi-tercerah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mati Tanpa Inovasi</title>
		<link>http://adiwirawan.net/post/mati-tanpa-inovasi/</link>
		<comments>http://adiwirawan.net/post/mati-tanpa-inovasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Sep 2010 02:37:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Wirawan!</dc:creator>
				<category><![CDATA[sasana]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[plurk]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<category><![CDATA[windows]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adiwirawan.net/post/mati-tanpa-inovasi/</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini twitter akan merilis aplikasi versi terbaru mereka.
Percayalah saya tidak juga terlalu eksis di twitter, pun juga di plurk, di quora, apalagi di facebook.
Rilis pemberitahuan dari adanya inovasi terbaru twitter bisa njenengan lihat di sini

Inovasi jelasnya, bagaimanapun aplikasi tersebut terlanjur muncul dan kita terlanjur menggunakan aplikasi tersebut. Tuntutan, sebuah kepastian dari sebuah sifat konsumen. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini <a href="http://twitter.com/adiwirawan" target="_blank">twitter</a> akan merilis aplikasi versi terbaru mereka.</p>
<p>Percayalah saya tidak juga terlalu eksis di <a href="http://twitter.com/adiwirawan" target="_blank">twitter</a>, pun juga di <a href="http://plurk.com/add_">plurk</a>, di <a href="http://www.quora.com/Adi-Wirawan" target="_blank">quora</a>, apalagi di <a href="http://facebook.com/adiwirawan" target="_blank">facebook</a>.</p>
<p>Rilis pemberitahuan dari adanya inovasi terbaru twitter bisa njenengan lihat di sini<br />
<object width="578" height="348" data="http://www.youtube.com/v/rIpD7hfffQo&amp;rel=0&amp;color1=0xb1b1b1&amp;color2=0xd0d0d0&amp;hl=en_US&amp;feature=player_embedded&amp;fs=1" type="application/x-shockwave-flash"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/rIpD7hfffQo&amp;rel=0&amp;color1=0xb1b1b1&amp;color2=0xd0d0d0&amp;hl=en_US&amp;feature=player_embedded&amp;fs=1" /><param name="allowfullscreen" value="true" /></object><span id="more-98"></span></p>
<p>Inovasi jelasnya, bagaimanapun aplikasi tersebut terlanjur muncul dan kita terlanjur menggunakan aplikasi tersebut. Tuntutan, sebuah kepastian dari sebuah sifat konsumen. Selalu menuntut adanya perubahan dan perbaikan yang disebut dengan inovasi itu sendiri.</p>
<p>Microsoft Windows pun berinovasi tiada henti, mulai dari Windows 1.0 di tahun 1985 hingga sekarang Windows 7 dan akan segera berangsur menuju ke Windows 8 yang masih dalam taraf perencanaan (<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Microsoft_Windows" target="_blank">wikipedia</a>), contoh bagaimana sifat menuntut yang dilakukan oleh pasar dan konsumen kepada semua produk yang ada.</p>
<p>Facebook dulu pada awal mulanya tentu tidak &#8217;segemuk&#8217; sekarang dalam hal aplikasi. Sebagai &#8216;korban&#8217; dari rakusnya pasar dalam menuntut, aplikasi-aplikasi baru ditambahkan. Dan seiring bertambahnya waktu tentu akan semakin gemuk dan semakin gemuk saja aplikasi yang tertanam di platform facebook itu sendiri.</p>
<p>Dan masih akan terus banyak lagi tentunya, dari mulai wordpress yang senantiasa mengeluarkan rilis baru, plurk yang sekarang sudah terdapat fitur untuk melakukan chat, ubuntu yang juga setiap 6 bulan sekali mengeluarkan rilis baru. Inovasi, semua bergerak untuk inovasi supaya tetap bisa berdiri di mata pasar.</p>
<p>Kadang itu juga lah yang menjadikan para pemula dalam industri kreatif ini lebih memilih &#8216;berkalung handuk&#8217; dan mengurungkan niat. Karena melihat aplikasi yang ada sudah begitu komplitnya, seudah begitu luar biasanya, sehingga bagaikan memberikan aba-aba bulu kuduk untuk serentak berdiri. Melihat bagaimana rakusnya pasar.</p>
<p>Tapi tentu saja, seperti yang njenengan pikirkan dan pahami semuanya di balik semua inovasi dan kemajuan yang ada tentu ada yang disebut langkah pertama untuk memulai. Seperti Windows yang pada awalnya memulai langkah pertama dengan membuat perjanjian dengan investor tentang program Dos yang bahkan belum pernah ditulis sebelumnya.</p>
<p>One step leads to another, tentu saja.</p>
<p>Dan pada saatnya kalau pasar sudah terbentuk, maka tiada kata lain untuk tetap eksis, untuk tetap berkibar yakni : inovasi, inovasi dan inovasi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adiwirawan.net/post/mati-tanpa-inovasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Baiklah</title>
		<link>http://adiwirawan.net/post/baiklah/</link>
		<comments>http://adiwirawan.net/post/baiklah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 May 2010 16:52:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Wirawan!</dc:creator>
				<category><![CDATA[sasana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adiwirawan.net/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[Baiklah, biarlah kukatakan selayaknya ku mengangguk juga saat kau, seorang bijak mengatakan bahwa &#8220;ketika cahaya atau yang disangka cahaya itu datang, maka silaunya boleh jadi membutakan mata&#8221;.
Kala itu lubang udara memang tidak segersang sekarang, kala itu pintu langit memang tidak sekelam sekarang, kala itu pijar cahaya memang tidak segemerlap dan semegah sekarang. Sehingga acuhnya mukaku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Baiklah, biarlah kukatakan selayaknya ku mengangguk juga saat kau, seorang bijak mengatakan bahwa &#8220;ketika cahaya atau yang disangka cahaya itu datang, maka silaunya boleh jadi membutakan mata&#8221;.</p>
<p>Kala itu lubang udara memang tidak segersang sekarang, kala itu pintu langit memang tidak sekelam sekarang, kala itu pijar cahaya memang tidak segemerlap dan semegah sekarang. Sehingga acuhnya mukaku menjadikan getir pada dinding-dinding nadimu.</p>
<p>Sadar itu memang datang di belakang jalan.</p>
<p>Nyatanya memang benar! cahaya yang terlalu cepat datang itu menyilaukan, sungguh menyilaukan dan melenakan jalan.</p>
<p>Maka dengan seizinmu jugalah satu dari kalimat saktimu itu akan tergunakan.</p>
<p>Semoga,</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adiwirawan.net/post/baiklah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kita bukanlah Kita</title>
		<link>http://adiwirawan.net/post/kita-bukanlah-kita/</link>
		<comments>http://adiwirawan.net/post/kita-bukanlah-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 02:02:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Wirawan!</dc:creator>
				<category><![CDATA[sasana]]></category>
		<category><![CDATA[girl]]></category>
		<category><![CDATA[little]]></category>
		<category><![CDATA[pianist]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adiwirawan.net/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Dan mari saja kita duduk bersama dan kembali bercerita tentang seorang gadis kecil di panggung piano.
Ketika seorang gadis kecil kembali ber-malu malu mengetahui bahwa dirinya harus tampil di atas panggung dengan jutaan pasang mata menatap dirinya. Sendiri, tidak berdaya, dan malu malu. Dan langkah kaki mungilnya pun akhirnya menginjak papan panggung yang dingin, datar dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 147px"><img title="little girl" src="http://farm1.static.flickr.com/28/52681459_f4dea3198a.jpg" alt="little girl" width="137" height="143" /><p class="wp-caption-text">little girl</p></div>
<p>Dan mari saja kita duduk bersama dan kembali bercerita tentang seorang gadis kecil di panggung piano.</p>
<p>Ketika seorang gadis kecil kembali ber-malu malu mengetahui bahwa dirinya harus tampil di atas panggung dengan jutaan pasang mata menatap dirinya. Sendiri, tidak berdaya, dan malu malu. Dan langkah kaki mungilnya pun akhirnya menginjak papan panggung yang dingin, datar dan sombong.</p>
<p>Sebuah lentikan awal menyentuh papan piano yang besar itu, dan suara pun mulai menggema, mengangkasa, menyeruak di segala sisi ruang. Suara piano yang berawal dari lentikan jari-jari pun mulai bertaburan membuat ruangan bergemuruh. Dan semua pun mulai tertegun. Semua orang mulai menatap gadis kecil dengan piano besar di depan badan kecilnya. Mungkinkah semua orang berdecak kagum? Mungkinkah semua orang terpana dengan keahlian si gadis kecil itu?</p>
<p>Kagum? Tidak! Kaget lebih tepatnya, bahwa hanya untuk melihat gadis yang jauh dari kata lancar mereka harus berduyun-duyun untuk hal yang tidak masuk akal. Melihat betapa susunan lentikan nada piano dari si gadis hanya membuat telinga merah menganga, tidak berpola, rusak.<span id="more-57"></span></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 156px"><img title="pianist" src="http://www.americangirlinkuwait.com/sitebuildercontent/sitebuilderpictures/pianist.hands.JPG" alt="pianist" width="146" height="168" /><p class="wp-caption-text">pianist</p></div>
<p>Melihat ada sesuatu yang berjalan tidak benar, ketika semua orang sudah mulai gusar, ketika semua orang sudah mulai ribut, memaki gadis yang hanya membuat suasana menjadi kalut. Seorang pianis senior dengan keahlian tiada tara dengan jari yang mampu bergerak sendiri mengikuti alunan alam, tergerak untuk memperbaiki keributan, kekalutan, kekacauan suasana yang dinisbatkan oleh si gadis kecil tersebut.</p>
<p>Dan lantunan piano dari pianis yang handal pun mulai berangkat mengiringi keributan dari si gadis kecil, ketidakpolanan dari piano si gadis diimbangi dengan lantunan handal dari sang pianis yang juga handal. Bersahutan lah lantunan piano dari keduanya. Menjadilah hiburan yang menyenangkan, sahut menyahut cantik terjadi, seakan dialog mulai terjadi. Luar biasa, mengagumkan dan mencukupkan.</p>
<p>Tepukan tangan puas dari penonton-pun jadi keniscayaan, mereka puas, mereka senang,  bangga dan berseri-seri. Segala pujian dan sanjungan muncul begitu saja. Melihat pertunjukkan yang membumi dan membawa jiwa tersegarkan kembali.</p>
<p>Tapi sang pianis handal enggan menampakkan dirinya, dia tetap tidak terlihat, di belakang panggung, unseen. Jadilah si gadis menyangka bawah dirinya lah yang membuat pertunjukkan piano hebat ini. Si gadis tertawa lebar mendapati bahwa dirinya telah berhasil mensukseskan berjalannya penampilan panggung ini. Jumawa!</p>
<p>Maka coba katakan pada gadis kecil nan jumawa itu untuk segera paham, untuk segersa taslim, untuk segera sadar diri, untuk segera tahu bahwa ada kekuatan di luar dirinya yang menjadikan kejadian terlihat luar biasa di semua mata. Ada tenaga yang ternyata tidak terlihat membungkus kekacauan yang sebenarnya telah terjadi.</p>
<p>Dan kalau kita masih merasa seperti gadis kecil ini, merasa jumawa dengan diri sendiri maka segera sadarlah bahwa ternyata kekuatan lainlah yang sebenarnya membuat kita menjadi kita. Karena sebenarnya kita bukanlah kita.</p>
<p>images taken from : http://www.americangirlinkuwait.com &amp; http://flickr.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adiwirawan.net/post/kita-bukanlah-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rindu Hujan</title>
		<link>http://adiwirawan.net/post/rindu-hujan/</link>
		<comments>http://adiwirawan.net/post/rindu-hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 02:14:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Wirawan!</dc:creator>
				<category><![CDATA[sasana]]></category>
		<category><![CDATA[hujan]]></category>
		<category><![CDATA[kemarau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adiwirawan.net/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Kalau kemarau galau, tentang turunnya hujan dari jaring-jaring langit.
Maka katakan, hujan pasti datang!!!
Dia akan datang dengan begitu anggunnya, berteman seruling alam yang menyanyi sajak kesyukuran, berkencana megahnya pelangi, bermahkota gemerlapnya matahari, berjubah langit senja merona. Indah, menyejukkan dan mencukupkan.
Lalu kenapa harus tergesa memaksa langit memahat kokoh dindingnya, biarkan saja langit menetapkan waktu yang tepat untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau kemarau galau, tentang turunnya hujan dari jaring-jaring langit.<br />
Maka katakan, hujan pasti datang!!!</p>
<p>Dia akan datang dengan begitu anggunnya, berteman seruling alam yang menyanyi sajak kesyukuran, berkencana megahnya pelangi, bermahkota gemerlapnya matahari, berjubah langit senja merona. Indah, menyejukkan dan mencukupkan.<span id="more-50"></span></p>
<p>Lalu kenapa harus tergesa memaksa langit memahat kokoh dindingnya, biarkan saja langit menetapkan waktu yang tepat untuk mengguyur punggung bumi, biarkan saja anggunnya hujan menyibukkan menyiapkan diri menawarkan indah parasnya, biarkan saja hujan menunggu saat yang tepat untuk menyapa kemarau yang galau.</p>
<p>Sabar!!! Katakan dengan lantang kepada kemarau untuk tetap sabar</p>
<p>Ungkap bahwa kemarau-pun tetap harus menyiapkan diri, membiarkan hujan layak untuk menyapa dirinya lagi, dan pada saatnya semua akan indah pada waktunya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adiwirawan.net/post/rindu-hujan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- www.000webhost.com Analytics Code -->
<script type="text/javascript" src="http://analytics.hosting24.com/count.php"></script>
<noscript><a href="http://www.hosting24.com/"><img src="http://analytics.hosting24.com/count.php" alt="web hosting" /></a></noscript>
<!-- End Of Analytics Code -->

