<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Namaku Wirawan, Adi Wirawan &#187; sasana</title>
	<atom:link href="http://adiwirawan.net/post/category/sasana/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://adiwirawan.net</link>
	<description>Begins with a prayer ends with victory</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 May 2012 08:35:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Papa Ko &amp; Mama Rea</title>
		<link>http://adiwirawan.net/post/papa-ko-mama-rea/</link>
		<comments>http://adiwirawan.net/post/papa-ko-mama-rea/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 03:08:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Wirawan!</dc:creator>
				<category><![CDATA[sasana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adiwirawan.net/?p=328</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah cerita rekaan semata. Sungguh rekaan semata. Di suatu rumah yang terletak di daerah antah barantah. Tinggalah sepasang suami istri penggemar bintang-bintang asia. Sang suami suka bintang asia yang cewek, sedangkan si istri suka dengan bintang asia yang cowok tentunya. Dan kedua pasangan tersebut untuk selanjutnya kita beri nama Papa Ko (27 th) untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="bintang" src="http://shelvywaseso.files.wordpress.com/2011/08/gold-star-background-1.jpg" alt="" width="304" height="304" />Ini adalah cerita rekaan semata. Sungguh rekaan semata.</p>
<p>Di suatu rumah yang terletak di daerah antah barantah. Tinggalah sepasang suami istri penggemar bintang-bintang asia. Sang suami suka bintang asia yang cewek, sedangkan si istri suka dengan bintang asia yang cowok tentunya. Dan kedua pasangan tersebut untuk selanjutnya kita beri nama Papa Ko (27 th) untuk sang suami serta mama Rea (23 th) untuk sang istri.</p>
<p>Mengapa namanya Papa Ko dan Mama Rea? Jawabannya adalah biar saja, karena ini hanya cerita antah barantah, tentu pemberian namanya pun dibuat dalam bentuk khayal juga.</p>
<p>Kita lanjutkan.</p>
<p><span id="more-328"></span>Papa Ko adalah suami yang telah disebutkan tadi merupakan pria pemuja bintang asia. Bisa dilihat dari profil facebooknya, cover bergambar bintang asia. Update status per status adalah merupakan berita perkembangan tentang artis yang digemarinya. Sebut saja artis yang diminatinya, ah lebih tepatnya artis yang paling diminatinya bernama Mi Em. Maka lihatlah deretan berita tentang Mi Em selalu nangkring di status fbnya.</p>
<p>&#8220;Wah, bener-bener nie drama Mi Em in Love. Scene pas Mi Em mati di-skip ato di-omit bisa gag ya? Nontonnya 10x tp yg nangis 15x. Hikz~ #terlalu mendalami&#8221;. &#8220;Wakz~~ saia pengen sepatunya Miss Mi Em yang dipake pas call me Mi Em. huhuhu,  where should I buy that??&#8221;. &#8220;Adakah yg tau akun twitter Mi Em ?? Kayane saia nge-fans ma dy.. Ehehehe&#8221;.</p>
<p>Dan itulah beberapa status fb yang dimiliki oleh Papa Ko dan sederet status aduhai nya yang menandakan betapa kegandrungan telah menyelimuti sekujur tubuhnya. Gandrung pada Mi Em. Bintang asia itu.</p>
<p>Tapi tentu saja itu belum selesai, mungkin sesekali bisa kita lihat di kamarnya. Maka akan terlihat berjubel gambar Mi Em dari segala sudut fotografi. Ahh..Papa Ko, Papa Ko. Dan itu tentunya baru kamar, belum isi dompet nya, belum wallpaper hp nya. Belum kaos yang dimilikinya, belum souvenirnya. Mungkin kalau kita lihat lebih detail lagi, bisa saja ada tato nama Bintang Mi Em di salah satu sudut tangan kekarnya. Ahh..Papa Ko, Papa Ko.</p>
<p>Kita tinggalkan sebentar Papa Ko sang Mi Em lover di sana. Biarkan dia di sana, dan kita di sudut lain melihat seorang manusia yang mungkin mulai terlihat aneh karena kegandrungannya. Dan tiba saatnya kita mulai bercerita tentang Mama Rea. Yes&#8230;Mama Rea, wanita muda, juga enerjik penggemar Sue Santo. Bintang Asia juga tentunya.</p>
<p>Kini kita lihat sebentar twitter dari Mama Rea.</p>
<p>&#8220;Demi Film Sue Santo on the Roof Tile,  Maka Film Sue Santo back to the Village dihapus dulu. huhuhu gapapa deh, tar minta lagi. ukuran file-nya saingan!! &gt;&lt;&#8221;. &#8220;Ohhh Sue Santo, how you can be so sweet Sue Santo&#8221;. &#8220;Good Morning @sue_santo_bintang_asia ^0^ &#8220;. &#8220;@sue_santo_bintang_asia kapan main film sama @mi_em_bintang_asia #lirik Papa Ko&#8221;.</p>
<p>Dan begitulah aksi Mama Rea di twitter. Dahsyat. Heboh. Sungguh monumental tentunya.</p>
<p>Itu baru lewat jejaring twitter nya, belum yang lain. Tapi untuk urusan koleksi foto dan kegandrungan mungkin bisa lebih atau bisa kurang, atau kurang lebih sama dengan pasangannya. Papa Ko. Dari urusan wallpaper, souvenir, koleksi film, mungkin juga sampai tato tubuh. Ya, kurang lebih sama juga dengan pasangannya. hmm&#8230;mama Rea..mama Rea.</p>
<p>Bisa dibilang Papa Ko dan Mama Rea adalah pasangan muda. Yang atas takdir Allah, bersatu dalam satu tatanan pernikahan. Papa Ko pencinta Bintang Asia bernama Mi Em. Sedangkan sang istri juga pecinta aktor asia bernama Sue Santo. Ya, mereka gandrung terhadap bintag-bintang itu, terlalu gandrung bahkan. Sejak sebelum menikah. Hingga sekarang.</p>
<p>Sebagai penggemar bintang asia, Papa Ko dan Mama Rea pun berlangganan majalah asia juga, tabloid, bahkan beberapa laman di web bertajuk update berita tentang bintang asia sudah dihafal diluar kepala. Penuh girang tak terkira tentunya jika artis pujaan ada di berita. Kadang girang kadang geram. &#8220;Ahhh Mi em kamu tak pantas pakai baju itu Mi Em&#8221;. &#8220;Sue Santo tuh kan dah dibilang, kalau potong rambut jangan model itu&#8221;. &#8220;Duhh Mi Em, kenapa kamu pake sepatu kayak itu sihh..&#8221;. Dan itu hanya sedikit cuplikan singkat komentar Papa Ko dan Mama Rea ketika mendengar berita tentang artis asia pujaannya. Mi Em dan Sue Santo.</p>
<p>bersambung insya Allah&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adiwirawan.net/post/papa-ko-mama-rea/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Detik yang Berkualitas</title>
		<link>http://adiwirawan.net/post/detik-yang-berkualitas/</link>
		<comments>http://adiwirawan.net/post/detik-yang-berkualitas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2012 02:22:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Wirawan!</dc:creator>
				<category><![CDATA[sasana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adiwirawan.net/?p=309</guid>
		<description><![CDATA[Kita semua punya detik-detik berharga dalam hidup kita. Kita semua memilikinya. Namun yang sering terjadi nyatanya kita kadang terlena, terlupa, kurang terjaga bahwasanya detik yang baru saja kita lewati merupakan detik berharga. Detik berharga dalam hidup-hidup kita. Mungkin karena kita lena tentangnya maka pada suatu waktu nanti kita akan teringat juga, teringat tentang beberapa keputusan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="Detik yang berkualitas" src="http://thumbs.dreamstime.com/thumblarge_444/1255460174827DWS.jpg" alt="" width="334" height="288" />Kita semua punya detik-detik berharga dalam hidup kita. Kita semua memilikinya. Namun yang sering terjadi nyatanya kita kadang terlena, terlupa, kurang terjaga bahwasanya detik yang baru saja kita lewati merupakan detik berharga. Detik berharga dalam hidup-hidup kita.</p>
<p>Mungkin karena kita lena tentangnya maka pada suatu waktu nanti kita akan teringat juga, teringat tentang beberapa keputusan yang kita buat di masa yang lampau. Tentang detik detik keputusan itu.</p>
<p>Bahwa saat itulah, ternyata adalah detik berharga dalam hidup kita. Di mana peluang dibentangkan, apakah berujung kepada kesyukuran ataupun kesabaran akan takdir yang kuasa.</p>
<p>Namanya Hanzhalah bin Abi Amir Radiallahuanhu. Temanten baru yang malamnya berduaan dengan istrinya, tetapi pagi punya cerita lain untuknya. Seruan Jihad. Gunung UHUD menunggu.</p>
<p>Memperoleh detik berkualitasnya ketika terjadi pertarungan batin. Pertarungan batin untuk memenangkan ke-<em>absurd</em>-an kenikmatan dunia ataukah memenangkan kekekalan janji langit. Maka lihatlah Hanzhalah segera bersicepat memenuhi janji langit, secepat-cepatnya, segiat-giatnya. Hingga belum melakukan mandi janabat menuju syahidnya pada saat perang UHUD saat itu juga. Subhanallah.<span id="more-309"></span></p>
<p>Dan kita dengarkan Rosulullah bersabda, &#8220;Sungguh Aku melihat Malaikat memandikan Hanzhalah bin Amir ra antara langit dan bumi dengan air awan dalam bejana terbaut dari perak.&#8221;</p>
<p>Adalagi riwayat teladan tentang Umair bin Hammam membuang kurma sambil berkata, &#8220;Bakh! Bakh! Tidaklah aku dapat masuk ke dalam jannah kecuali aku harus terbunuh oleh musuh.&#8221; Kemudian dia membuang kurma yang ada di genggaman tangan dan segera menghunus pedang untuk memerangi musuh sampai dia terbunuh. Dan dia Umair bin Hamman pun mendapat detik keputusan yang berkualitas dalam hidupnya. Segera menyongsong kebaikan yang agung dengan tanpa menunggu menghabiskan kurma di tangan.</p>
<p>Ada banyak cerita lain yang sungguh luarbiasa untuk kita jadikan pijakan tentang orang-orang mulia di sekitar Nabi. Orang-orang mulia yang sering memperoleh detik berkualitas dalam hidupnya. Karena Quran bersama mereka, karena sunnah menghiasi hidup mereka.</p>
<p>Seperti kata pak Steven Covey yang sering kita dengar juga. Bahwa 10% dari hidup adalah apa yang terjadi pada diri kita. Sedangkan 90% lainnya adalah reaksi apa yang kita lakukan dari apa yang terjadi.</p>
<p>Tentu saja dengan mengesampingkan benar tidaknya perbandingan prosentase yang ada. Paling tidak seperti itulah kurang lebihnya. Semua dari kita bisa menerima apapun dalam hidup ini. Bisa senang, bisa suka bisa duka. Namun beda orang akan beda juga cara memaknai hidup. Maka dari pemaknaan inilah tentunya akan menghujung pada keadaan yang berbeda pada tiap orang. Walaupun masalah yang diterima sama. Tapi karena detik penentuan yang berkualitas ini berbeda, maka tentu saja keadaan yang dicapaipun akan berbeda pula semestinya.</p>
<p>Silahkan meminta pada Allah tuhan kita, silahkan belajar dengan sebenar benar belajar dan silahkan berkumpul dengan orang-orang baik dan sholeh. Karena dari Allah dan orang-orang itu kita berusaha menyesap energi yang sebanyak-banyaknya, energi langit yang seluas-luasnya. Karena dengan membersamainya &#8211; Allah dan orang-orang sholeh- kita akan lebih mengerti cara menuju hidup yang sesungguhnya. Karena dengannya pula kita akan dalam tuntunan sesungghunya.  Agar kita mendapat detik yang berkualitas dalam hidup kita.</p>
<p>Dan sidang pembaca yang berbahagia silahkan memilah dan memilih detik detik yang berkualitas dalam hidup njenengan. Silahkan <img src='http://adiwirawan.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adiwirawan.net/post/detik-yang-berkualitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saatnya Juga</title>
		<link>http://adiwirawan.net/post/saatnya-juga/</link>
		<comments>http://adiwirawan.net/post/saatnya-juga/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Feb 2012 09:09:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Wirawan!</dc:creator>
				<category><![CDATA[sasana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adiwirawan.net/?p=261</guid>
		<description><![CDATA[Kau tahu kawan, saatnya juga kuasa Allah sang Pencipta mengajak makhluk untuk kembali memahami bahwasanya kita tiada berdaya, kosong dan tak bermakna. Ada saatnya juga Allah menebang habis ranting-ranting kepongahan dan membuang bongkah-bongkah kesombongan kita dengan begitu cantiknya. Sehingga kita terhempas, sehingga kita terlelah dengan keadaan. Ada saatnya juga lugunya pagi dan manjanya senja mengajak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 274px"><img title="saatnya juga" src="http://www.radioassunnah.com/images/doa.jpg" alt="saatnya juga" width="264" height="263" /><p class="wp-caption-text">saatnya juga</p></div>
<p>Kau tahu kawan, saatnya juga kuasa Allah sang Pencipta mengajak makhluk untuk kembali memahami bahwasanya kita tiada berdaya, kosong dan tak bermakna. Ada saatnya juga Allah menebang habis ranting-ranting kepongahan dan membuang bongkah-bongkah kesombongan kita dengan begitu cantiknya. Sehingga kita terhempas, sehingga kita terlelah dengan keadaan.</p>
<p>Ada saatnya juga lugunya pagi dan manjanya senja mengajak kita kembali ke masa di mana cerita-cerita seharusnya bermula. Sehingga pikir kita liar tak tentu arah menjalar, sehingga pikir kita terbang tak bertujuan, yang bermuara pada setan dan kebodohan. Na&#8217;udzubillah.<span id="more-261"></span></p>
<p>Tapi tetap saja kita berharap ada saatnya juga kita kembali merenungi kata-kata suci kembali, &#8220;<strong><em>Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir</em></strong>&#8221; . Ah..tentu kita bukan orang kafir kawan. Bukan. Sekali lagi bukan!</p>
<p>Dengarkan aku kawan, dengarkan. Allah masih mendengar doa-doa kita. Allah masih melihat kerja-kerja kita. Atau mungkin saat ini Allah Tuhan kita semua masih bekerja menebang dan membuang pongah dan sombong kita. Maka tetap saja berdoa pada pemilik langit. Tetap saja bekerja seperti langit mengajarkan cara bekerja. Allah masih melihat, menilai dan menunggu saat yang tepat untuk semua.</p>
<p>Sehingga ada saatnya juga kita akan bersenyum kembali dan menyungkurkan tubuh kita ke bumi, bahwa rencana Allah memang nyata indahnya, bahwa janji Allah memang nyata benarnya. Semua memang ada saatnya. Dan kita percaya.</p>
<p>- untuk negeri yang terjanji</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adiwirawan.net/post/saatnya-juga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Taman, penjara</title>
		<link>http://adiwirawan.net/post/taman-penjara/</link>
		<comments>http://adiwirawan.net/post/taman-penjara/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2011 05:58:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Wirawan!</dc:creator>
				<category><![CDATA[sasana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adiwirawan.net/post/taman-penjara/</guid>
		<description><![CDATA[Dan pada saatnya aku bercerita tentang akan adanya penjara di jalan-jalan menuju taman, belum jelas memang, apakah taman ataukah hanya sebidang penjara lain yang dibalut kata cerita sehingga terlihat seperti taman sedianya.Tapi tetap saja, tampaknya ini adalah jalan menuju taman. Terhias semburat jingga yang mengukir di setiap pojok tanah basah. Gemerlap, cemerlang, bahkan sering diceritakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dan pada saatnya aku bercerita tentang akan adanya penjara di jalan-jalan menuju taman, belum jelas memang, apakah taman ataukah hanya sebidang penjara lain yang dibalut kata cerita sehingga terlihat seperti taman sedianya.<span id="more-140"></span>Tapi tetap saja, tampaknya ini adalah jalan menuju taman. Terhias semburat jingga yang mengukir di setiap pojok tanah basah. Gemerlap, cemerlang, bahkan sering diceritakan indah lebih dari nyatanya. Oleh manusia-manusia yang belum juga pernah melewatinya. Mungkin saja.</p>
<p>Dan inilah taman ini, tamanku, taman kita, tapi belum tentu juga tamanku sama dengan tamanmu nantinya.</p>
<p>Dan inilah juga penjara ini, penjara yang harus dilewati untuk tamanku, penjaraku, penjara kita, tapi belum tentu juga sama antara penjaraku kini dengan penjara mu dahulunya.</p>
<p>Ada saja ragu, ada saja kelu, tapi mungkin ingatan tentang taman yang akan tertuju derita penjara jadi tertiada. Meski keranda sendiri mulai mengitari, meski nyatanya pagar penjara sama kuatnya dengan besarnya sengsara. Kejam!</p>
<p>Kelihatan kejam, dan aku samar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adiwirawan.net/post/taman-penjara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sang Pencerah &#8211; Seberapa Kita Menjadi Tercerah</title>
		<link>http://adiwirawan.net/post/sang-pencerah-seberapa-kita-menjadi-tercerah/</link>
		<comments>http://adiwirawan.net/post/sang-pencerah-seberapa-kita-menjadi-tercerah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Sep 2010 23:02:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Wirawan!</dc:creator>
				<category><![CDATA[one day]]></category>
		<category><![CDATA[sasana]]></category>
		<category><![CDATA[Movie]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[Sang Pencerah]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adiwirawan.net/post/sang-pencerah-seberapa-kita-menjadi-tercerah/</guid>
		<description><![CDATA[Sekiranya yang namanya sejarah tentunya akan terulang. Adalah cerita tentang Muhammad Darwis ( Ihsan Taroreh ), pria muda yang selalu menempatkan pikiran selalu haus akan kebenaran. &#8216;Kehausan&#8217; ini pulalah yang mendorong Darwis muda untuk melenggang menuju Mekkah untuk menuntut Ilmu agama, agama Islam tentunya. Sepulang dari Mekkah, Muhammad Darwis mengganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Merasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://adiwirawan.net/wp-content/uploads/2010/09/sang-pencerah.jpg" alt="Sang Pencerah Cover" /></p>
<blockquote><p>Sekiranya yang namanya sejarah tentunya akan terulang.</p></blockquote>
<p>Adalah cerita tentang Muhammad Darwis ( Ihsan Taroreh ), pria muda yang selalu menempatkan pikiran selalu haus akan kebenaran. &#8216;Kehausan&#8217; ini pulalah yang mendorong Darwis muda untuk melenggang menuju Mekkah untuk menuntut Ilmu agama, agama Islam tentunya.<span id="more-104"></span></p>
<p>Sepulang dari Mekkah, Muhammad Darwis mengganti nama menjadi Ahmad Dahlan.</p>
<p>Merasa hal yang tidak selayaknya mengakar terjadi di masyarakat, dari mulai penentuan arah Kiblat, budaya yang menuju ke arah Bid&#8217;ah / Sesat, K.H. Ahmad Dahlan merasa prihatin yang sangat dan tergerak untuk melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan. Ulama kafir! akhirnya bersemat juga menjadi sebuah julukan yang mengakar di dirinya : sebuah konsekuensi dari orang yang berbeda.</p>
<p>Dan kerja keras K.H. Ahmad Dahlan pun dimulai, kerja keras yang diiringi tangis, keringat. Beruntung K.H.Ahmad Dahlan masih punya Allah, cita-cita, keinginan, beberapa kerabat dan Istri yang selalu ada untuknya. Yang akhirnya mengantarkan K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah (yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad) sebagai organisasi sosial.</p>
<p>Dan apakah cerita di film ini hanya reka-reka Hanung Bramantyo saja untuk menanggapi isu yang terjadi sekarang? Tentunya bukan, studi literatur, studi narasumber masih mengiringi berjalannya cerita di film ini.</p>
<p>Silahkan terhibur dengan menonton Film ini, silahkan membuat review, silahkan membuat kritikan tentang film ini, silahkan mencocokkan kondisi di film dengan kondisi masyarakat saat ini, silahkan melihat bahwa sejarah saat ini memang terulang, silahkan membuat kesimpulan inti yang membuat kita <strong>Tercerahkan</strong>.</p>
<p>Setiap kesimpulan akan berbeda tentunya di setiap mata, kepala dan jiwa.</p>
<p>cc : <a href="http://parisberkata.getux.com/" target="_blank">Eko Paris</a> , <a href="http://masmoe.wordpress.com/" target="_blank">Fajar Nugroho</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adiwirawan.net/post/sang-pencerah-seberapa-kita-menjadi-tercerah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mati Tanpa Inovasi</title>
		<link>http://adiwirawan.net/post/mati-tanpa-inovasi/</link>
		<comments>http://adiwirawan.net/post/mati-tanpa-inovasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Sep 2010 02:37:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Wirawan!</dc:creator>
				<category><![CDATA[sasana]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[plurk]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<category><![CDATA[windows]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adiwirawan.net/post/mati-tanpa-inovasi/</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini twitter akan merilis aplikasi versi terbaru mereka. Percayalah saya tidak juga terlalu eksis di twitter, pun juga di plurk, di quora, apalagi di facebook. Rilis pemberitahuan dari adanya inovasi terbaru twitter bisa njenengan lihat di sini Inovasi jelasnya, bagaimanapun aplikasi tersebut terlanjur muncul dan kita terlanjur menggunakan aplikasi tersebut. Tuntutan, sebuah kepastian dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini <a href="http://twitter.com/adiwirawan" target="_blank">twitter</a> akan merilis aplikasi versi terbaru mereka.</p>
<p>Percayalah saya tidak juga terlalu eksis di <a href="http://twitter.com/adiwirawan" target="_blank">twitter</a>, pun juga di <a href="http://plurk.com/add_">plurk</a>, di <a href="http://www.quora.com/Adi-Wirawan" target="_blank">quora</a>, apalagi di <a href="http://facebook.com/adiwirawan" target="_blank">facebook</a>.</p>
<p>Rilis pemberitahuan dari adanya inovasi terbaru twitter bisa njenengan lihat di sini<br />
<object width="578" height="348" data="http://www.youtube.com/v/rIpD7hfffQo&amp;rel=0&amp;color1=0xb1b1b1&amp;color2=0xd0d0d0&amp;hl=en_US&amp;feature=player_embedded&amp;fs=1" type="application/x-shockwave-flash"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowScriptAccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/rIpD7hfffQo&amp;rel=0&amp;color1=0xb1b1b1&amp;color2=0xd0d0d0&amp;hl=en_US&amp;feature=player_embedded&amp;fs=1" /><param name="allowfullscreen" value="true" /></object><span id="more-98"></span></p>
<p>Inovasi jelasnya, bagaimanapun aplikasi tersebut terlanjur muncul dan kita terlanjur menggunakan aplikasi tersebut. Tuntutan, sebuah kepastian dari sebuah sifat konsumen. Selalu menuntut adanya perubahan dan perbaikan yang disebut dengan inovasi itu sendiri.</p>
<p>Microsoft Windows pun berinovasi tiada henti, mulai dari Windows 1.0 di tahun 1985 hingga sekarang Windows 7 dan akan segera berangsur menuju ke Windows 8 yang masih dalam taraf perencanaan (<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Microsoft_Windows" target="_blank">wikipedia</a>), contoh bagaimana sifat menuntut yang dilakukan oleh pasar dan konsumen kepada semua produk yang ada.</p>
<p>Facebook dulu pada awal mulanya tentu tidak &#8216;segemuk&#8217; sekarang dalam hal aplikasi. Sebagai &#8216;korban&#8217; dari rakusnya pasar dalam menuntut, aplikasi-aplikasi baru ditambahkan. Dan seiring bertambahnya waktu tentu akan semakin gemuk dan semakin gemuk saja aplikasi yang tertanam di platform facebook itu sendiri.</p>
<p>Dan masih akan terus banyak lagi tentunya, dari mulai wordpress yang senantiasa mengeluarkan rilis baru, plurk yang sekarang sudah terdapat fitur untuk melakukan chat, ubuntu yang juga setiap 6 bulan sekali mengeluarkan rilis baru. Inovasi, semua bergerak untuk inovasi supaya tetap bisa berdiri di mata pasar.</p>
<p>Kadang itu juga lah yang menjadikan para pemula dalam industri kreatif ini lebih memilih &#8216;berkalung handuk&#8217; dan mengurungkan niat. Karena melihat aplikasi yang ada sudah begitu komplitnya, seudah begitu luar biasanya, sehingga bagaikan memberikan aba-aba bulu kuduk untuk serentak berdiri. Melihat bagaimana rakusnya pasar.</p>
<p>Tapi tentu saja, seperti yang njenengan pikirkan dan pahami semuanya di balik semua inovasi dan kemajuan yang ada tentu ada yang disebut langkah pertama untuk memulai. Seperti Windows yang pada awalnya memulai langkah pertama dengan membuat perjanjian dengan investor tentang program Dos yang bahkan belum pernah ditulis sebelumnya.</p>
<p>One step leads to another, tentu saja.</p>
<p>Dan pada saatnya kalau pasar sudah terbentuk, maka tiada kata lain untuk tetap eksis, untuk tetap berkibar yakni : inovasi, inovasi dan inovasi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adiwirawan.net/post/mati-tanpa-inovasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Baiklah</title>
		<link>http://adiwirawan.net/post/baiklah/</link>
		<comments>http://adiwirawan.net/post/baiklah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 May 2010 16:52:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Wirawan!</dc:creator>
				<category><![CDATA[sasana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adiwirawan.net/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[Baiklah, biarlah kukatakan selayaknya ku mengangguk juga saat kau, seorang bijak mengatakan bahwa &#8220;ketika cahaya atau yang disangka cahaya itu datang, maka silaunya boleh jadi membutakan mata&#8221;. Kala itu lubang udara memang tidak segersang sekarang, kala itu pintu langit memang tidak sekelam sekarang, kala itu pijar cahaya memang tidak segemerlap dan semegah sekarang. Sehingga acuhnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Baiklah, biarlah kukatakan selayaknya ku mengangguk juga saat kau, seorang bijak mengatakan bahwa &#8220;ketika cahaya atau yang disangka cahaya itu datang, maka silaunya boleh jadi membutakan mata&#8221;.</p>
<p>Kala itu lubang udara memang tidak segersang sekarang, kala itu pintu langit memang tidak sekelam sekarang, kala itu pijar cahaya memang tidak segemerlap dan semegah sekarang. Sehingga acuhnya mukaku menjadikan getir pada dinding-dinding nadimu.</p>
<p>Sadar itu memang datang di belakang jalan.</p>
<p>Nyatanya memang benar! cahaya yang terlalu cepat datang itu menyilaukan, sungguh menyilaukan dan melenakan jalan.</p>
<p>Maka dengan seizinmu jugalah satu dari kalimat saktimu itu akan tergunakan.</p>
<p>Semoga,</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adiwirawan.net/post/baiklah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kita bukanlah Kita</title>
		<link>http://adiwirawan.net/post/kita-bukanlah-kita/</link>
		<comments>http://adiwirawan.net/post/kita-bukanlah-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 02:02:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Wirawan!</dc:creator>
				<category><![CDATA[sasana]]></category>
		<category><![CDATA[girl]]></category>
		<category><![CDATA[little]]></category>
		<category><![CDATA[pianist]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adiwirawan.net/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Dan mari saja kita duduk bersama dan kembali bercerita tentang seorang gadis kecil di panggung piano. Ketika seorang gadis kecil kembali ber-malu malu mengetahui bahwa dirinya harus tampil di atas panggung dengan jutaan pasang mata menatap dirinya. Sendiri, tidak berdaya, dan malu malu. Dan langkah kaki mungilnya pun akhirnya menginjak papan panggung yang dingin, datar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 147px"><img title="little girl" src="http://farm1.static.flickr.com/28/52681459_f4dea3198a.jpg" alt="little girl" width="137" height="143" /><p class="wp-caption-text">little girl</p></div>
<p>Dan mari saja kita duduk bersama dan kembali bercerita tentang seorang gadis kecil di panggung piano.</p>
<p>Ketika seorang gadis kecil kembali ber-malu malu mengetahui bahwa dirinya harus tampil di atas panggung dengan jutaan pasang mata menatap dirinya. Sendiri, tidak berdaya, dan malu malu. Dan langkah kaki mungilnya pun akhirnya menginjak papan panggung yang dingin, datar dan sombong.</p>
<p>Sebuah lentikan awal menyentuh papan piano yang besar itu, dan suara pun mulai menggema, mengangkasa, menyeruak di segala sisi ruang. Suara piano yang berawal dari lentikan jari-jari pun mulai bertaburan membuat ruangan bergemuruh. Dan semua pun mulai tertegun. Semua orang mulai menatap gadis kecil dengan piano besar di depan badan kecilnya. Mungkinkah semua orang berdecak kagum? Mungkinkah semua orang terpana dengan keahlian si gadis kecil itu?</p>
<p>Kagum? Tidak! Kaget lebih tepatnya, bahwa hanya untuk melihat gadis yang jauh dari kata lancar mereka harus berduyun-duyun untuk hal yang tidak masuk akal. Melihat betapa susunan lentikan nada piano dari si gadis hanya membuat telinga merah menganga, tidak berpola, rusak.<span id="more-57"></span></p>
<div class="wp-caption alignleft" style="width: 156px"><img title="pianist" src="http://www.americangirlinkuwait.com/sitebuildercontent/sitebuilderpictures/pianist.hands.JPG" alt="pianist" width="146" height="168" /><p class="wp-caption-text">pianist</p></div>
<p>Melihat ada sesuatu yang berjalan tidak benar, ketika semua orang sudah mulai gusar, ketika semua orang sudah mulai ribut, memaki gadis yang hanya membuat suasana menjadi kalut. Seorang pianis senior dengan keahlian tiada tara dengan jari yang mampu bergerak sendiri mengikuti alunan alam, tergerak untuk memperbaiki keributan, kekalutan, kekacauan suasana yang dinisbatkan oleh si gadis kecil tersebut.</p>
<p>Dan lantunan piano dari pianis yang handal pun mulai berangkat mengiringi keributan dari si gadis kecil, ketidakpolanan dari piano si gadis diimbangi dengan lantunan handal dari sang pianis yang juga handal. Bersahutan lah lantunan piano dari keduanya. Menjadilah hiburan yang menyenangkan, sahut menyahut cantik terjadi, seakan dialog mulai terjadi. Luar biasa, mengagumkan dan mencukupkan.</p>
<p>Tepukan tangan puas dari penonton-pun jadi keniscayaan, mereka puas, mereka senang,  bangga dan berseri-seri. Segala pujian dan sanjungan muncul begitu saja. Melihat pertunjukkan yang membumi dan membawa jiwa tersegarkan kembali.</p>
<p>Tapi sang pianis handal enggan menampakkan dirinya, dia tetap tidak terlihat, di belakang panggung, unseen. Jadilah si gadis menyangka bawah dirinya lah yang membuat pertunjukkan piano hebat ini. Si gadis tertawa lebar mendapati bahwa dirinya telah berhasil mensukseskan berjalannya penampilan panggung ini. Jumawa!</p>
<p>Maka coba katakan pada gadis kecil nan jumawa itu untuk segera paham, untuk segersa taslim, untuk segera sadar diri, untuk segera tahu bahwa ada kekuatan di luar dirinya yang menjadikan kejadian terlihat luar biasa di semua mata. Ada tenaga yang ternyata tidak terlihat membungkus kekacauan yang sebenarnya telah terjadi.</p>
<p>Dan kalau kita masih merasa seperti gadis kecil ini, merasa jumawa dengan diri sendiri maka segera sadarlah bahwa ternyata kekuatan lainlah yang sebenarnya membuat kita menjadi kita. Karena sebenarnya kita bukanlah kita.</p>
<p>images taken from : http://www.americangirlinkuwait.com &amp; http://flickr.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adiwirawan.net/post/kita-bukanlah-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rindu Hujan</title>
		<link>http://adiwirawan.net/post/rindu-hujan/</link>
		<comments>http://adiwirawan.net/post/rindu-hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 02:14:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Wirawan!</dc:creator>
				<category><![CDATA[sasana]]></category>
		<category><![CDATA[hujan]]></category>
		<category><![CDATA[kemarau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adiwirawan.net/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Kalau kemarau galau, tentang turunnya hujan dari jaring-jaring langit. Maka katakan, hujan pasti datang!!! Dia akan datang dengan begitu anggunnya, berteman seruling alam yang menyanyi sajak kesyukuran, berkencana megahnya pelangi, bermahkota gemerlapnya matahari, berjubah langit senja merona. Indah, menyejukkan dan mencukupkan. Lalu kenapa harus tergesa memaksa langit memahat kokoh dindingnya, biarkan saja langit menetapkan waktu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau kemarau galau, tentang turunnya hujan dari jaring-jaring langit.<br />
Maka katakan, hujan pasti datang!!!</p>
<p>Dia akan datang dengan begitu anggunnya, berteman seruling alam yang menyanyi sajak kesyukuran, berkencana megahnya pelangi, bermahkota gemerlapnya matahari, berjubah langit senja merona. Indah, menyejukkan dan mencukupkan.<span id="more-50"></span></p>
<p>Lalu kenapa harus tergesa memaksa langit memahat kokoh dindingnya, biarkan saja langit menetapkan waktu yang tepat untuk mengguyur punggung bumi, biarkan saja anggunnya hujan menyibukkan menyiapkan diri menawarkan indah parasnya, biarkan saja hujan menunggu saat yang tepat untuk menyapa kemarau yang galau.</p>
<p>Sabar!!! Katakan dengan lantang kepada kemarau untuk tetap sabar</p>
<p>Ungkap bahwa kemarau-pun tetap harus menyiapkan diri, membiarkan hujan layak untuk menyapa dirinya lagi, dan pada saatnya semua akan indah pada waktunya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adiwirawan.net/post/rindu-hujan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- www.000webhost.com Analytics Code -->
<script type="text/javascript" src="http://stats.hosting24.com/count.php"></script>
<noscript><a href="http://www.hosting24.com/"><img src="http://stats.hosting24.com/count.php" alt="web hosting" /></a></noscript>
<!-- End Of Analytics Code -->

