Menyederhanakan Arti Bahagia

Bahagia sesungguhnya sederhana.

Namanya hafis, anak sehat nan menggemaskan. Kadang takut manakala mendengar nama om adi disebutkan. Kadang malah mendekat dekat. Memang anak kadang-kadang. Gembira, bahagia tak terkira ketika satu kunang-kunang malam tertangkap. Lalu berlari riang menuju kakak sepupunya : Zaki. Cerita ke sana kemari. Soal kebahagiaan. Soal kunang kunang.

Bahagia sesungguhnya sederhana.

Melihat anak-anak belajar baca Al Quran di suatu tempat. Bisa berlari ke sana kemari. Membeli sebungkus somay sederhana, kemudian bercerita dan bercerita. Kemudian ketika saatnya materi TPA dilaksanakan, pembina datang, anak-anak antusias memperhatikan. Sesederhana itu.

Bahagia sesungguhnya sederhana.

Ketika perjalanan dengan rintik hujan, ditemani gelayut angan yang mengembang. Dihantam angin dari penjuru muka. Tapi bisa saja bahagia itu datang. Dengan anak-anak kecil yang mencandai hujan. Atau dengan kesyukuran adanya mantol di tangan.

Bahagia sesungguhnya sederhana.

Ketika pulang, kemudian disambut dengan wajah riang kesejukan oleh istri dan keluarga tercinta.

Bahagia sesungguhnya sederhana.

Kita tinggal membuka mata lebih lebar. Untuk menangkap bahwa Allah menitipkan serpihan kebahagian dari hari perhari hidup kita. Dan kita, hanya tinggal membuka mata lebih lebar saja. Ya, hanya perlu membuka mata lebih lebar saja. Kemudian tidak perlu mensyaratkan tentang maknanya bahagia.

Seperti malam dan gelapnya. Yang sejatinya Allah menaburkan keindahan malam, melalui cahaya kecil kecil bintang diantara renggangnya malam.

Dan kalau malam sudah mulai datang kembali. Ada baiknya pejamkan mata barang sebentar, untuk bersiap membuka mata lebih lebar. Untuk melihat butiran bintang. Untuk melihat taburan kebahagiaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *