Secara default, saya, mungkin juga termasuk njenengan semua, adalah golongan orang-orang yang masih menganut paham dan juga prinsip ekonomi dalam menerapkan liku-liku kehidupan di dunia yang sementara ini. Saya tidak berani memberikan sebuah teori yang membabi buta dengan mengatakan bahwa semua orang suka dengan yang murah, karena njenengan, saya, dan juga banyak orang bisa melihat bahwa ada beberapa orang yang walaupun suka dengan yang murah namun musti terkalahkan dengan sebuah ego hedonisme yang terpatri di kedalaman diri.
Kalau anda tinggal di lokasi daerah Yogyakarta tentu anda mengenal dengan lokasi keramat yang dinamakan dengan klithikan, sebuah lokasi pertempuran sengit antara seorang penjual yang getol memegang bandrol harga barang yang terpadukan dengan seorang pembeli yang juga ikut getol memegang berkurang nya kuantitas isi dompet. Di klithikan yang sekarang berada di daerah pakuncen, njenengan semua hampir bisa menemukan semua barang yang anda cari, kalaulah misalnya njenangan di siang hari nya kehilangan barang semisal helm cobalah di malam harinya anda menyambangi tempat ini, siapa tahu helm anda sekadar hanya berpindah tempat untuk sementara, untuk sekedar jalan-jalan dengan orang lain dan akhirnya harus dipindah tangankan kepada pembeli di lokasi Nganyang Senganyang Ngayangnya ini.
Jangan tanya kepada saya bagaimana cara 'menganyang' di lokasi ini, karena tiap kali datang ke tempat ini selalu saja ada ilmu baru bagaimana cara untuk menganyang yang efektif. Mungkin suatu hari perlu juga dibuat tulisan, rangkuman ataupun thesis spesifik bagaimana menganyang efektif dan efisien di klithikan ini, saya kira akan menjadi thesis yang cukup menarik. Di samping ide ini hampir jarang berani terpikirkan oleh orang-orang yang akan berakhir masa studinya di disiplin ilmu yang terkait, selain itu nantinya njenengan juga perlu membuat alasan yang cukup tak masuk akal, sehingga dosen pembimbing anda akan diam dan merasa yakin dan menyerah bahwa anda sudah kehabisan ide untuk membuat judul tugas akhir.
Selain di klithikan ada lagi tempat yang kadang saja menjadi lokasi menghabiskan hasrat berburu seorang laki-laki seperti saya ini, tiada lain, tiada bukan yakni 'Awul-Awul' tempat berjubelnya barang-barang yang untuk mencarinya njenengan perlu memiliki energi yang lebih. Lebih untuk mengobrak-abrik tumpukan kain-kain yang katanya berupa pakaian ini, juga lebih untuk berulang-ulang menganyang kepada si empunya toko awul-awul tadi. Kalau dibanding dengan klithikan mungkin kasta daripada 'Awul-awul' ini -dalam hal pakaian- berada di peringkat bawahnya kasta klithikan. Selain karena di klithikan kualitas dari kerapian masih bisa ditolerir, kalau di 'Awul-awul' njenengan semua perlu energi lebih. Seperti yang saya bilang sebelumnya, yakni energi untuk mengobrak abrik tumpukan kain yang menggunung tak beraturan. Tapi perlu saya tekankan di sini, keunggulan 'Awul-awul' adalah kepuasan, ya, kepuasan manakala kita bisa memperoleh barang yang berkualitas di antara tumpukan kain yang membumbung tinggi. Serasa menemukan harta karun, njenengan semua perlu mencoba sensasinya. Terima kasih pada kawanku YUDAN yang mengenalkan lokasi petualangan bernama 'Awul-awul' ini.
Kalau njenengan pernah melihat saya berpakain tentu njenengan mungkin tidak bisa membedakan mana yang saya beli di klithikan, mana yang saya beli di 'Awul-awul' sampai mana pakaian yang untuk membelinya saja saya perlu membayar dinginnya AC ruangan. Tidak tahu alasannya, apakah karena memang tipe pakaian yang biasa saya pakai memang pakaian yang 'nadanya' dan 'temanya' sama, atauakah karena memang kasta pakaian yang saya pakai selalu sama. Seperti yang saya bilang di awal tadi, tidak semua barang yang murah itu murahan.
Dalam hal Sistem Operasi di dunia komputer ini, saya juga masih menjadi pribadi yang default, yakni senang yang murah. Bukan, bukan windows yang saya pilih di sini, karena walaupun di mata saya dan beberapa orang yang jiwanya sudah terikat dengan rental komputer, yang dengan bermodal uang 2500 saja bisa dapat CD windows yang dibuat dengan bermandi darah dan berpeluh nanah serta berbasah ludah. Cukup mudah bukan, bahkan rekan saya yang bernama PARIS saja tak ayal juga sering menanyakan dengan sms, 'Serial numbere windows xp piro', sudah beberapa kali saya jawab, tapi mungkin karena berat beban yang dia terima ketika dia berada di PPTIK UGM, maka jangan salahkan dia juga kalau di lain waktu dia juga menanyakan hal yang sama, 'Serial numbere windows xp piro', maka seperti biasa juga saya jawab, 'XP8BF-F8HPF-PY6BX-K24PJ-TWT6M'. Tapi ini tidak legal men, windows ini berbayar, yang bayarannya bisa berkali libat dari 2500 rupiah, bayarannya pun bisa berkali lipat dari sekadar balesan sms yang berisi serial number windows bajakan, dan juga pada akhirnya ini semua harus dipertanggung jawabkan di akherat kelak. Maka, untuk memuaskan hasrat saya, linux yang saya pakai sekarang adalah linux gratis tapi tidak murahan, saya tidak akan membandingkan windows dengan linux pada kesempatan ini, karena bisa jadi 'Flame War'. Saya rasa linux adalah sebuah teknologi alternatif, kalau tidak bisa beli yang mahal ya jangan mbajak, gunakan linux.
Dari beberapa hal yang saya uraikan di atas, mungkin belum bisa meyakinkan njenengan bahwa yang murah itu belum tentu murahan. Tapi tiadalah menjadi nestapa, karena saya tidak memaksa njenengan mengangguk dengan apa yang saya tunjuk, saya sekadar mengajak njenengan berpikir dengan semua yang ingin anda cibir. Tapi kawan, ini tidak berlaku untuk njenengan yang secara aktif sedang 'Looking For' mencari pasangan hidup anda.
Seorang rekan saya SMA pernah berkelakar kepada saya, "Seorang wanita murahan bukanlah seorang pelacur bayaran, tapi wanita murahan adalah seorang wanita yang rela di 'apa-apakan' oleh laki-laki yang bukan suaminya". Jadi, judul saya tadi tidak berlaku secara mutlak tentunya.
Mozilla Firefox 2.0.0.14 on
Windows XP
Ubuntu Linux
Linux
Internet Explorer 6.0 on 
