Menjadi lebih teliti mungkin itu merupakan sebuah kata kunci yang menjadi topik perhatian untuk beberapa minggu ini, kenapa eh kenapa tiba tiba tanpa hujan tanpa petir kita dengan sekonyong-konyong ngomong soal ini? karena eh karena, ceritanya begini. Begini ceritanya, beberapa hari yang lalu saia mendapatkan sebuah pesan yang cukup "mengerikan", pesan sederhana untuk menjadi lebih teliti dalam pengerjaan tugas. Dari mana eh dari mana sebuah pesan itu datang meluncur ke kotak email ku, dari klien tentu nya -halah bahasane klien, sok2an tenan- .
Isi pesan
itu kurang lebih memberikan sebuah petuah kehidupan, petuah pengerjaan
tugas, petuah singkat untuk kehidupan ku selanjutnya. Yang semoga bisa
merubah kehidupan ini menjadi lebih baik di masa yang akan mendatang.
Isi pesan itu cukup singkat untuk bisa lebih detail dalam pengerjaan
tampilan layout yang dibuat, cukup singkat namun mengena, mengena dalam
sekali, trenyuh aku dibuatnya, sampai-sampai skarang suaranya kelihatan masih menggema di gendang telinga, pff... . Bagaimanapun juga hikmah itu bisa datang dari siapa saja tentunya.
Ceritanya seperti ini, ah tidak jadi saja, kita langsung pada inti pembicaraan kita pada kesempatan yang berbahagia ini. Pesan dari - ahh berat aku mengatakannya - , pesan dari klien itu mengisayaratkan bahwa beliaunya meminta dalam pengerjaan tugas ini nantinya bisa dikerjakan dengan teliti. Ya dengan teliti, teliti seteliti-telitinya, kalau boleh dikatakan dalam titik ekstrimnya misalkan tampilan antar spasi itu dibuat persis, ukuran nya dibuat sama, tidak ada bedanya sama sekali, sehingga ketika si klien melihat aplikasi yang kita buat dia bisa tersnyum lebar, puas, senang dan dengan mata berbinar seolah ingin mengatakan, ohh mas you are my men.
Tapi, itu tidak mudah, itu tidak mudah, perlu perjuangan panjang untuk bisa menjadikan diri ini menjadi orang yang lebih teliti dalam banyak hal, kalau dalam perkataan banyak orang, ketika seseorang sudah mencapai usia 20 maka mulai sulit untuk merubah kebiasaan yang ada. Kalau biasanya punya kebiasaan baik tentu tidak menjadi apa, tapi kalau kebiasaan nya buruk tentu bisa menjadi masalah yang bisa membabi buta, misalkan saja kalau kita biasanya ngomong yang baik tentu itu adalah sebuah hal yang baik adanya. Namun coba bayangkan pas kita punya kebiasaan 'misuh' dalam bahasa jawa atau sering berkata kotor dalam pembicaraan kita, pas tersandung batu misuh, gak bisa ngerjain ujian misuh, mungkin karena sering misuhnya, pas pernikahan nantinya ucap doa yang keluar hanya misuh memisuh tidak karuan. Itu baru kalau nikah, coba pas kalau kita mati nanti karena saking fasihnya bermanuver dengan kata-kata yang tiada baik, maka kalimat terakhir yang keluar dari mulut kita adalah kalimat jelek yang biasa kita keluarkan, tragis bukan.
Kembali ke pokok persoalan tadi, tentang teliti tadi, mungkin sudah saatnya menjadi orang yang lebih teliti dalam segala hal bukan cuma dalam pengerjaan tugas saja, semuanya-semuanya, di samping karena dengan teliti bisa mendatangkan banyak hikmah di balik semuanya, paling gak ketika kita menjadi orang yang lebih teliti, anda puas, dan kami lemas
.
Budaya, budaya seadanya mungkin sudah mulai terpatri dalam jidat beku kita, asal jadi saja. Agak sulit memang menjadi orang yang lebih di indonesia kita tercinta tercinta ini, orang-orang nya terlalu gimana gitu, atau mungkin perasaan saya saja ya. Yah mungkin itu cuma perasaan saya semata saja.
Dah sedikit itu yang bisa kukatakan, jangan berharap lebih dari tulisan ini, meh ngerjain komplainan dari si klien tadi - hallah bahasane kie lhoo, sok2 an tenan -.
gambar diambil dari www.bnglifecasting.com
Internet Explorer 7.0 on
Windows XP
Safari 523.15 on
Mac OS X
Mozilla Firefox 2.0.0.9 on
Linux
2008-11-03 09:28:19 : Charging........ [YM] [via API] : [diposting 2 mggu, 2 hri, 5 jm, 52 mnt, 26 dtk yang lalu ]