Kemarin sabtu, iya sabtu kemarin sayah mengikuti acara nya jTechnopreneurship 2008 yang digawangi oleh himakom ugm. Sebuah acara yang menghadirkan pak frans thamura sebagai sebuah maskot dunia java menjava di indonesia. Sempat dengar juga namanya dalam milis yang sempat kuikuti, juga dari beberapa forum, terlihat pak frans memang memegang andil besar dalam perkembangan java di indonesia raya merdeka-merdeka ini.
Dari nama judulnya tentu saja kita tahu, jTechnopreneurship 2008, selain di depan tadi sudah sayah sebutkan bahwa ini terkait dengan java, dari nama acaranya tentu dengan sangat bangga kita bisa menebak bahwa ini adalah apa? bukan, bukan j dalam grup band jRock yang berarti jepang ke jepang-jepangan tapi ini tentang java, ya njenengan benar ini tentang java menjava.
Ada beberapa alasan ketika seseorang mengikuti sebuah acara, mulai dari pembicara, topik acara, suasana, rekan yang mengikuti dan juga ehm.. makan siangnya gratis nih. Ini gratis oi, gratis benar-benar gratis, kita cuma perlu datang, tandatangan, ikut mendengarkan, tanyakan kalau ada yang perlu ditanyakan dan semua girang semua senang, walaupun setelah makan siang acara menjadi semakin melelahkan. Tapi overall acaranya bagus kok, salut buat penitia yang ngadainnya.
Seperti acara presentasi pada umumnya, seperti acara presentasi yang dilakukan oleh DIDIN teman saya yang selalu gesit dan giat memproklamirkan MLM yang diikutinya, begitu pula presentasi itu berlangsung. Segala kekuatan java coba ditumpah ruah, diramu, diaduk, diolah, dimixing sehingga menjadi sebuah tampilan resep penggoda selera manusia untuk segera secara jantan mencoba untuk mempelajari bahasa pemrograman yang dinamakan java tersebut.Semua terasa begitu nikmat, mak nyuss pokoknya, rasanya itu hmmm.... Semua kemumpunian nya java dikeluarkan, framework-framework cadas yang dimilikinya, sampai bentuk aplikatif yang bisa diciptakan darinya, yang kemudian tercetuslah statement 'back java yo java'.
Sebagai insan yang hanya menjadi penikmat, dan terpana melihat riuhnya suasana dunia, saya sih hayu hayu saja untuk belajar java, selama teknologi java cucok dan juga tepat untuk diterapkan dalam aplikasi yang dibuat maka ayo saja. Dalam contoh lain, misalkan saja gedit paling cocok buat menulis buat apa saya membuka microsoft word. Jadi ya selama teknologi sesuai dengan kebutuhan pasar, hayyah, bahasanya itu lho, pasar-pasar segala. Selama teknologi sesuai dengan kebutuhan pasar dan dirasakan teknologi yang ada sudah cukup memuaskan konsumen dan tidak berdampak negatif bagi pengembang maka apa boleh dikata, bukankah bahasa pemrograman itu hanyalah sebuah tool saja.
Bukan, saya bukan sejenis manusia yang mendewakan bahasa pemrograman di atas segalanya. Seperti yang saya bilang sebelumnya bagaimanapun bahasa pemrograman itu hanya sarana, hanya tool untuk menghasilkan aplikasi. Terserah njenengan kalau mengatakan bahwa ini dinamakan penjaja aplikasi, tapi ya yang begini terasa nikmat juga kok. Jadi ya selama cocok maka ayo kita kopyok, tentu menjadi sesuatu pemaksaan yang berlebihan jika kita memaksa gedit untuk menghasilkan presentasi walaupun dengan agak sedikit kegiatan yang keterlaluan kita bisa memaksanya untuk memenuhi keinginan kita. Dalam bentuk kasar kebalikannya, kalau dengan membunuh cicak saja cukup dengan jepretan karet buat apa kita mendatangkan trebuchet dari legenda Age Of Empire untuk membasminya.
Itu semua menurut saya, bagaimana dengan njenengan?
Mozilla Firefox 2.0.0.12 on
Windows XP
Ubuntu Linux
Opera 9.25 on
Internet Explorer 6.0 on 
