Dua makhluk kecil itu sekarang sering berlari ke arahku jika mendengar deru kasar suara motor grandku yang berkeluh tidak pernah mendapat sentuhan dari montir-montir berbudi. Adalah Muhammad Fahriza Arrifani yang untuk kemudian dipanggil dengan sebutan Rifa dan juga Zaki Maula Tsaqifa yang kemudian dipanggil dengan sebutan Zaki, dua keponakanku putra dari mbakku.
Si Rifa sekarang sudah TK nol kecil, sukanya kalau dipegangi kapur nggambar sesuatu yang tidak jelas, tidak bisa dibedakan mana muka, kaki, tangan, tapi kalau pas ditanya sukanya ngomong kalau itu merupakan macan sumatra. Mungkin macan sumatra jadi-jadian, kalau si zaki yang kemarin baru saja dipotong plonco, gara-gara rambut kritingnya yang masih disinyalir merupakan keturunan dari eyang kakungnya yang tiada lain adalah ayahku. Prasangka yang lumayan masuk akal, sedangkan ibuk nya rambutnya lurus, ayahnya juga berambut lurus, kalau anda pernah belajar biologi tentu anda paham tentang teori semacam ini. Aku dulu pernah diajari pak Agus Mulyadi guru SMA MTA ku tentang hal itu.
Kenapa eh kenapa dua manusia kecil keponakanku itu akhir-akhir ini sering berlari jingkat-jingkat menuju ke arahku ketika aku baru pulang dari jogja? karena eh karena mereka tahu kalau di punggung omnya ini, ada sebongkah benda padat yang bisa memberikan mereka kesenangan, ya, ya, ya, laptop di punggung ini lebih punya pamor dari pada diriku. "Mas, naruto mas, setelke naruto" kalau dibasakan dalam bahasa indonesia, "mas, naruto mas, putarkan naruto", kalau dalam bahasa inggris mungkin akan seperti ini, "would you mind to show me your naruto's movie". Kadang mereka panggil aku mas, kadang juga mereka panggil aku om. Akhirnya sebagai om yang bisa memahami arti penting kesenangan pada usia semisal mereka, aku tak kuasa menahan untuk memberikan apa yang mereka inginkan. Film naruto hasil downloadan dari nikmat nya kucuran file dari inherent itu, akhirnya kuputaarkan untuk 2 pria kecil itu.
Tanya-tanya gak karuan mereka bertanya, kok yang ini bisa mati tho, kok yang ini menang tho, kok ini kok gak punya ibu tho, pertanyaan khas anak kecil, lugu, berani, cadas, tanpa ampun pokoknya - filosofi yang mulai kusuka dari anak kecil -, jawab kujawab apa yang bisa kujawab, sampai-sampai hampir terkapar badan ini menelan kelelahan badan setelah kurang lebih 45 menit terhempas oleh kejamnya suasana jalan yang mulai beringas, apalagi ditambah ulang dua bocah kecil itu, i am not 100% anymore.
Tapi bagaimanapun mereka juga perlu ditemani untuk menonton film sekaliber NARUTO, bukan karena aku belum nonton film itu, bukan pula karena aku pengin kelihatan pintar dan terpelajar di hadapan mereka, bukan pula karena aku pengin menghafal setiap dialog yang ada di film itu -percaya atau tidak, kawanku saking senengnya sama film ayat-ayat cinta sampai punya hasrat buat menghafal dialognya, sungguh obsesi yang aneh- .Lihat adegan-adegan brutal di NARUTO saja orang yang sudah berumur saja bisa ikut-ikutan berhayal tidak karuan, apalagi dua keponakanku itu, bahhh...bisa jadi apa mereka nanti kalau kecil-kecil aja naruto sudah menjadi madrasahnya.
Kalau tempat belajar mereka saja sudah tv tanpa ada manusia yang mendampingi mereka, lalu apa kata dunia. Kalau tayangannya bagus sih tiada menjadi masalah, tapi kalau tayangannya sesuatu yang destruktip bagi perkembangan mereka. Kembali ke NARUTO tadi, lha wong habis nonton itu saja mereka kelihatan berulah seperti itu, apalagi kalau sering-sering nonton film ini, mereka bisa menganggap diri mereka sebagai Naruto yang bisa mengeluarkan rasengan, atau mereka menganggap diri mereka sebagai sakura yang bisa menjadi wanita perkasa, atau bisa juga yang lain, atau bisa juga yang lain, dan mungkin juga mereka bisa menganggap diri mereka sebagai pakun yang bisa mengendus-ngendus. Itu baru dari cerita naruto, belum cerita-cerita yang lain, dan juga film-film yang lain.
Kalau menurut anda saya seharusnya bagaimana sebagai seorang OM menghadapi metamorfosis perkembangan pribadi anak seperti ini, hallah bahasanya
, paling tidak aku bisa belajar dan latihan menjadi seorang bapak yang baik
.
Mozilla Firefox 2.0.0.12 on
Windows XP
Linux
Ubuntu Linux
