Sebut saja kumbang, hanya anak manusia biasa, seperti aku engkau dan kita semua. Bukan golongan ningrat, pangeran, ataupun sekadar superhero yang tertawa dan berlagak sebagai manusia yang dipuja dan tanpa dosa.
Becinta dan bercita pengin menjadi orang yang bisa menebarkan manfaat dan semangat bagi semua, tak terkecuali aku engkau dan kita semua. Menjadi tidak lacur adanya kalau beberapa posisi di dunia ingin ditempati, bahkan ketika detik pingin dihentikan untuk sementara, demi mengusung tema perwira, 'Menjadi Manusia Beberapa Dunia'. Sebuah semengat yang tetap diusung untuk mematikan waktu, layaknya semboyan para pecinta alam :
Jangan membunuh sesuatu kecuali waktu
Jangan mengambil sesuatu kecuali gambar
jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak
Maka lihatlah sekarang si kumbang, bergerak lepas layaknya sepoi angin yang menerbangkan butir butir gandum, halus dan bermakna.
lanjut...
Akhirnya tampilan web ini pun terganti untuk yang kedua kali.
Diracik dan dibangun dengan beberapa resep diantaranya :
Satu, suara rakyat yang berkata untuk menurunkan harga BBM
Dua, aksi -beberapa- mahasiswa yang 'keren' bergerak dengan gagah, sambil membakar ban-ban yang seolah ingin mengatakan pada dunia , "Hei...kami agent of change makanya kami seperti ini".
Tiga, para aparat yang semoga tetap sabar dan bijak memahami keadaan negeri.
Empat, bapak-bapak serta ibu-ibu pejabat pemerintah yang semoga tetap 'sabar' menanggung beban amanah yang ditanggungkan pada beliau-beliau. Yang semuanya musti depertanggungjawabkan di keharibaanNya.
lanjut...Secara default, saya, mungkin juga termasuk njenengan semua, adalah golongan orang-orang yang masih menganut paham dan juga prinsip ekonomi dalam menerapkan liku-liku kehidupan di dunia yang sementara ini. Saya tidak berani memberikan sebuah teori yang membabi buta dengan mengatakan bahwa semua orang suka dengan yang murah, karena njenengan, saya, dan juga banyak orang bisa melihat bahwa ada beberapa orang yang walaupun suka dengan yang murah namun musti terkalahkan dengan sebuah ego hedonisme yang terpatri di kedalaman diri.
Kalau anda tinggal di lokasi daerah Yogyakarta tentu anda mengenal dengan lokasi keramat yang dinamakan dengan klithikan, sebuah lokasi pertempuran sengit antara seorang penjual yang getol memegang bandrol harga barang yang terpadukan dengan seorang pembeli yang juga ikut getol memegang berkurang nya kuantitas isi dompet. Di klithikan yang sekarang berada di daerah pakuncen, njenengan semua hampir bisa menemukan semua barang yang anda cari, kalaulah misalnya njenangan di siang hari nya kehilangan barang semisal helm cobalah di malam harinya anda menyambangi tempat ini, siapa tahu helm anda sekadar hanya berpindah tempat untuk sementara, untuk sekedar jalan-jalan dengan orang lain dan akhirnya harus dipindah tangankan kepada pembeli di lokasi Nganyang Senganyang Ngayangnya ini.
lanjut...