Hai Abul Walid, Apakah Engkau Sudah Selesai?

Suatu saat Utbah bin Rabi’ah memberikan usulan kepada pembesar Qurays. Setelah dia melihat bahwa Hamzah Radhiallahu ‘anhu masuk islam, dan semakin banyaknya pengikut Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam. Utbah mengusulkan akan memberikan beberapa tawaran kepada Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam, dan berharap beliau Salallahu ‘Alaihi Wassalam menghentikan dakwahnya.

Datanglah Abul Walid (kunyah Utbah bin Rabi’ah) mendatangi Rasulullah Salallhu ‘Alaihi Wassalam dan berkata, “Hai saudaraku. Selama ini saya mengenal engkau sebagai sosok yang amat baik dalam bergaul dengan keluarga, dan mempunyai nasab yang bagus. Namun engkau kemudian membawa suatu perkara yang besar bagi kaummu. Sehingga engkau membuat mereka terpecah-belah, mencela impian mereka, mencemooh tuhan-tuhan dan agama mereka, dan engkau hapus segala ajaran nenek moyang mereka. Dengarlah, saya tawarkan kepadamu beberapa hal, dan tolong pertimbangkan itu. Barangkali dari tawaran itu ada yang menarik hatimu dan engkau mau menerimanya. ”

Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam, pribadi yang memiliki sikap menawan menjawab, “Teruskan keteranganmu, saya ingin mendengarnya dengan tuntas.”

Abdul Walid melanjutkan, “Saudaraku, jika engkau menginginkan harta dari dakwah yang engkau lakukan selama ini, maka kami siap mengumpulkan harta-harta kami dan memberikannya kepadamu. Sehingga, engkau menjadi orang yang paling kaya di antara kami. Jika engkau menginginkan kemuliaan, maka engkau akan kami angkat sebagai pimpinan kami. Sehingga, kami tidak akan memutuskan suatu perkara tanpa persetujuanmu. Jika engkau menginginkan kerajaan, maka kami akan jadikan engkau sebagai raja kami. Jika yang datang kepadamu itu adalah suatu gangguan mimpi, maka kami akan carikan tabib ahli untukmu. Kami siap menanggung segala biayanya sehingga engkau sembuh. Karena barangkali engkau sedang terserang suatu gangguan makhluk halus.”

Setelah Utbah bin Rabi’ah selesai dengan apa yang dibicarakannya, barulah Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam bertanya, “Hai Abul Walid, apakah engkau sudah selesai mengutarakan semua yang engkau ingin sampaikan?”

Utbah bin Rabi’ah pun menjawab, “Ya, sudah selesai”.

Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam berkata, “Sekarang dengarkan apa yang aku sampaikan ini. “, Utbah menjawab “Baik, saya akan dengarkan “.

Kemudian Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam membaca ayat Al Quran. Quran surat Fushilat 1-4:

Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan.

Mendengar bacaan tersebut, Utbah bin Rabiah hanya terdiam dan terpaku saja. Tangannya diletakkan di belakang dan badannya ditopangkan kepada tangannya.

Sesudah Rosulullah Salallahi ‘Alaihi Wassalam selesai membaca surat tersebut, Utban bin Rabi’ah pun pamit dan kembali menemui teman-temannya.

***

Sabar mendengar seseorang bicara adalah hal yang sulit. Apalagi mendengar seseorang bicara, dan kita sudah punya pernyataan untuk menanggapi penyampaian dari orang lain. Belajar dan terus belajar. Ada hak orang-orang yang menyampaikan sesuatu untuk didengar. Ada harga diri orang lain yang perlu dijaga. Belajar memang perlu terus belajar.

Rosulullah Salalllahi ‘Alaihi Wassalam mencontohkan. Membiarkan Utbah bin Rabi’ah menyelesaikan perkataannya sampai selesai. Sampai Rosulullah perlu memastikan, apakah masih ada yang perlu disampaikan lagi. Jangan jangan ada hal lain yang perlu disampaikan lagi oleh Utbah bin Rabi’ah. Maka Rosulullah perlu klarifikasi ulang.

***

Menahan sebentar. Biarkan orang lain selesaikan hajatnya. Bisa memotong pembicaraan kadang kala bukan menjadi hal yang baik.

Ahh…Akhlaq Rosulullah Salallahu ‘Alahi Wassalam, memang beliau menawan seperti itu….

sumber gambar : http://blogs-images.forbes.com/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *