Buku: Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia

Buku ini saya beli beberapa saat yang lalu, di dekat tempat saya biasanya berkarya. Ada 2 pilihan saat itu, apakah buku dengan judul Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia ataukah buku dengan judul Bangkit dan Runtuhnya Andalusia. Akhirnya dengan kontemplasi beberapa saat, kemudian tepuk-tepuk kantong beberapa saat pula, dipilihlah buku ini. Semoga Allah ta’ala memudahkan kita.

Buku ini mengetengahkan kondisi yang terjadi pada sekitar abad 10 Masehi. Di mana pada saat itu terjadi perbedaan yang cukup lebar. Antara dunia Islam dengan dunia Barat.

Bisa disimak pada buku sejarah umum karya Lavis dan Rambou, bahwa pada abad ke-7 hingga abad ke-10 Inggris Anglo Saxon adalah negeri tandus, terisolir, kumuh dan liar. Rumah-rumah dibangun dengan batu kasar tidak dipahat dan diperkuat dengan tanah halus. Rumah yang ada dibangung dengan pintu yang sempit, berada di dataran rendah, tidak terkunci dan dinding serta tembok tidak berjendela.

Kepala suku tinggal di gubuknya bersama keluarga, pelayan dan orang-orang yang punya hubungan dengannya. Di bagian tengah gubuk terdapat tungku yang asapnya mengepul lewat lubang yang tembus menganga di langit langit.

Pada saat itu pula Eropa penuh dengan hutan belantara. Dengan sistem pertanian yang terbelakang. Paris dan london yang katanya begitu menjadi idola wisatawan sekarang, pada saat itu rumah-rumah yang ada dibangun dari kayu dan tanah yang dicampur dengan jerami dan bambu, tidak berventilasi dan tidak punya kamar yang teratur. Jangan tanya soal permadani, ataupun tikar, hanya ada jerami-jerami yang ditebar di atas tanah.

Beda Eropa, beda pula dengan dunia Islam. Tersebutlah kota Islam seperti Baghdad, Damaskus, Cordoba, Granada dan Sevilla.

Disebutkan dalam buku ini. Cordoba pada malam hari diterangi lampu. Pejalan kaki memperoleh cahaya sepanjang sepuluh mil tanpa terputus. Lorong lorong yang ada dialasi dengan batu ubin. Cordoba dikelilingi taman hijau. Orang-orang yang berkunjung ke sana biasanya bersenang-senang dulu di kebun-kebun dan taman-taman sebelum sampai di kota Cordoba. Penduduknya lebih dari satu juta jiwa, di mana pada saat itu kota terbesar di Eropa penduduknya tidak lebih dari 25.000 orang.

Kemudian kita beralih ke Granada. Di sana terdapat keagungan bangunan istana Hamra yang merupakan lambang keajaiban yang mencengangkan. Tempat yang selalu menjadi pusat perhatian para wisatawan. Istana ini didirikan di atas bukit yang menghadap ke kota Granada dan hamparan ladang yang luas dan subur yang mengelilinginya sehingga menjadi seperti tempat terindah.

Buku ini disusun dengan pemaparan Ilmiah, relistis oleh Prof. Dr. Raghib As-Sirjani. Seorang dosen kehormatan di Fakultas kedokteran Universitas Cairo Mesir. Kelahiran tahun 1964.

Menarik!

***

Di saat serbuan cerita-cerita televisi yang beruntun memburu dan menyita perhatian kita. Dimulai dari generasi sinema korea, sinema india dan yang terakhir sinema turki. Ada baiknya mata kita tarik ke atas lebih jauh lagi. Untuk melihat lebih luas lagi. Supaya kita tidak linglung, supaya kita tidak bingung. Bingung mencari tokoh idola kita.

Sedangkan Mark Facebook saja sudah mencanangkan Book of The Year. Masih saja kita bersikeras akan memunculkan fitur Opera Sabun of The Year.

Dan selanjutnya, selamat datang kejayaan Islam. Di mana malamnya saja terang seperti siangnya. Tidak ada badai yang tak usai, tidak ada hujan yang tak berkesudahan. Petang saat ini akan melesat menjadi cerah di kemudiannya.

Pastikan kita ikut mengusahakannya, kalau bukan kita yang menikmatinya, semoga anak cucu kita yang mengecap manisnya. Semisal generasi Sholahuddin Al Ayyubi yang dirintis Imam Al Ghozali.

Baca! Baca! Baca! Kerja! Kerja! Kerja!

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *