Bukan Kita Yang Menonton, Kita Yang Ditonton

Melihat barang sebentar kotak berisi gambar menyala di rumah: televisi. Kadang hingar kita dibuatnya. Kadang geram sempat juga dititipkannya. Kadang pilu pernah ditiupkannya juga. Ternyata media cukup hebat juga ‘mengacau’ kita.

Melihat televisi yang berisikan cerita, demi cerita. Tentang cerita keluarga yang berputar-putar masalahnya. Mengurusi anak, perebutan kekuasaan dan entah apa lagi lainnya.

Tentang cerita rumah tangga yang dikira mau selesai, ternyata eh ternyata berangsur lama dan semakin rumit saja. Dan hebatnya, sang penonton bisa dibuat ikut serta berperang di dalamnya.

Dan tentang pilpres 2014 ini seperti nya juga merupakan cerita juga. Karena tampaknya informasi itu tidak perlu kita cari lagi. Mereka dengan suka rela, berlalu lalang di hadapan kita. Dan seperti layaknya cerita televisi yang kadang seperti sinetron juga. Kadang kita hingar, kadang kita pilu dan tidak jarang kita ikut geram.

Salah satu pojok menggambarkan idolanya begitu hebatnya. Sehingga berlama-lama pada pojok itu membuat kita merasa dialah manusia terbaik saat ini yang kita lihat di jagat semesta raya tiada tara. Selang beberapa saat kita mengunjungi pojok yang lain, akan kita lihat sesuatu yang berbeda. Sang idola di pojok sebelumnya akan digambarkan menjadi manusia paling hina, karena berita dan bumbu cerita yang luar biasa kejamnya.

Sehingga sebelumnya dia digambarkan menjadi manusia terbaik di jagat raya, selang beberapa saat bisa menjadi makhluk baru yang membuat kita kaget, bahwa ada juga makhluk yang seperti itu kelakuannya.

Bagaimanapun media dibuat untuk tujuan pemiliknya.

Sebentar eh sebentar, atau jangan-jangan sebenarnya kita yang ditonton oleh pemilik media. Bukan kita yang menonton.

Mereka bertepuk riuh di tempat nun jauh di sana. Melihat kita terombang ambing. Tertawa ketika media tertawa. Marah ketika media marah. Benci ketika media benci. Senang ketika media senang. Dan mereka menonton kita dengan senangnya. Senang, senang yang tiada tara.

Kelihatannya memang iya, kita merasa bahwa kita yang menonton televisi, tetapi sebenarnya kita yang ditonton oleh pemilik televisi.

sumber gambar : https://c1.staticflickr.com/5/4033/4711567000_1ab0ea5287_z.jpg

#salam22JuliKawalProsesHormatiHasil

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *