Banjir, Ibu Dan Rem

Banjir

Dan begitulah, kemarin siang saya sempat merasakan banjir. Sekitar jalan solo, menuju ke arah Ambarukmo Plaza Yogyakarta, dari arah janti. Walaupun tidak seberapa, tapi cukup menyusahkan dan cukup membuat ramai kondisi jalan. Antrian panjang mobil yang berjajar. Motor berjalan pelan, mengantisipasi supaya tidak tergelincir, dan orang-orang yang melihat pemandangan keadaan. Ada yang berfikir sebagai suatu keprihatinan, namun mungkin ada yang berfikir merupakan suatu hiburan -semoga bukan kita-.

Walaupun tidak sampai menenggelamkan rumah tapi cukup membuat rumit keadaan. Walaupun tidak separah jakarta -semoga Allah memudahkan negara kita menghadapi bencana-. Tapi cukup membuat khawatir suasana.

Ibu

Tetiba saja saya teringat ibu saya.

Beberapa hari yang lalu, ibu ngendika tentang cerita ibu-ibu pada suatu perkumpulan. Kebetulan ibu saya berada diantara perkumpulan ibu-ibu tersebut. Seorang ibu lain bercerita tentang keadaan anak anaknya. Yang sudah menjadi sukses dalam ceritanya. Memiliki 2 mobil, rumah, dan kebutuhan hidup lainnya. Dan beberapa cerita lainnya.

Dan singkat cerita di akhir cerita ibu berpesan, kalau dalam bahasa jawa kurang lebih  seperti ini : entek enteke donya ki ameh golek opo tho, sing penting awake dewe ki dadi wong sing agamane apik. Kalau dalam bahasa Indonesia kurang lebih seperti ini : habis habisnya dunia itu apa tho? apa yang hendak kita cari, yang paling penting jadi orang yang punya agama baik. Kalau dalam bahasa Inggris mungkin seperti ini : what we are looking for in this world, the importance thing is let’s become a good person who have a good religion. Kira kira seperti itu. Kemungkinan.

Rem

Beberapa saat yang lain juga, saat saya sedang bercengkerama dengan rekan senasib sepenanggungan dalam ranah FB. Berbicara kanan kiri, atas bawah, timur barat, utara selatan dan juga  pembicaraan ke seluruh penjuru mata angin. Pembicaraan yang menyenangkan di malam yang menyimpan sendiri misterinya, didampingi anak dan istri yang sedang terlelap tidur, yang barang sesekali sang anak menangis karena mengompol ria.

Di salah satu pembicaraan yang terekam ada kalimat yang masih terngiang : Sebetulnya orang hidup kan butuh GAS dan REM. Yang mereka bangun sekarang adalah GAS.

Mungkin maksudnya adalah bahwasanya dalam hidup pun ada hal-hal yang perlu dikejar tapi jangan lupa untuk memperhatikan hal-hal yang ‘berbahaya’, yang bisa merusak nilai usaha pengejaran.

Lalu apa maksud dari kesemua tulisan pada posting ini? 

Entahlah, mungkin bisa terhubung. Mungkin bisa tidak. Bisa ada keterkaitan. Bisa juga tidak. Tapi bukankah semestinya, kalau manusia termasuk kita, hidup dalam keadaan Takut dan Harap.

Takut kalau misalnya apa yang menjadi bencana di sekitar kita merupakan bagian dari dosa kita. Takut kalau beberapa bencana yang terjadi, bisa banjir, gunung meletus atau apalah nanti lainnya. Merupakan peringatan ringan dari sang maha pengguncang dunia, bahwa kita perlu rem dalam mewaspadai jalan hidup kita. Tidak cuma gas untuk mengejar dunia, tapi rem juga untuk mewaspadai hal-hal yang tidak selayaknya dilalui.

Harap. Bahwa sang penguasa alam merupakan zat yang maha pemurah. Dosa-dosa kita tiada tara, berlimpah ruah, penuh cela. Tapi hebatnya yang maha Kuasa, yang tidak butuh kita, masih dengan baiknya menerima taubat kita.

Yang perlu kita lakukan adalah banyak bertaubat dan segera menjadi hamba yang baik agama dan pribadinya.

Selanjutnya, memang begitulah sifat dunia, semakin dikejar semakin tidak ada habisnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *