Baiklah, biarlah kukatakan selayaknya ku mengangguk juga saat kau, seorang bijak mengatakan bahwa “ketika cahaya atau yang disangka cahaya itu datang, maka silaunya boleh jadi membutakan mata”.
Kala itu lubang udara memang tidak segersang sekarang, kala itu pintu langit memang tidak sekelam sekarang, kala itu pijar cahaya memang tidak segemerlap dan semegah sekarang. Sehingga acuhnya mukaku menjadikan getir pada dinding-dinding nadimu.
Sadar itu memang datang di belakang jalan.
Nyatanya memang benar! cahaya yang terlalu cepat datang itu menyilaukan, sungguh menyilaukan dan melenakan jalan.
Maka dengan seizinmu jugalah satu dari kalimat saktimu itu akan tergunakan.
Semoga,
sasana
Bagaimana kabar njenengan di sana wahai ‘orang asing’, lama tak bersua, semoga sahaja semuanya baik adanya.
Entah angin jenis apa yang membuat saya kembali teringat sebuah pernyataan yang dari mana asalnya mengatakan bahwasanya rumput tetangga lebih hijau.
Ya! Untuk beberapa hal rumput tetangga memang lebih hijau. Untuk beberapa hal saja, beberapa.
Syahdan, konon, ketika sore nan syahdu di bawah rintikan dan rintihan hujan, sesudah belajar bersama, ada seorang rekan bertanya tentang arti kalimat dalamĀ bahasa Inggris pada brosur dekil di atas meja. Sebuah brosur promo produk yang tidak perlu saya jelaskan kembali, tentu njenengan tahu bahwasanya brosur promo tentu berisi tentang penawaran suatu produk, tentunya. Read more…
Syahdan
Apakah memang sudah jamannya sesuatu itu harus dilebih-lebihkan?
Untuk mengungkapkan betapa murahnya Tarif?
sisi mata
Ikut Nimbrung