Dunia Penuh Keajaiban

Kita hidup di zaman penuh keajaiban dan penuh kejutan. Di mana mimpi hari ini adalah kenyataan esok hari.

Kita hidup di zaman penuh keajaiban dan penuh kejutan. Di mana rencana-rencana hidup terurai dan terejawantahkan dalam keseharian namun tetap saja kekuasaan yang Maha kuasa yang tetap akan menggenggam semuanya.

Kita hidup di zaman penuh keajaiban dan penuh kejutan. Kita lihat berapa banyak orang bertumbangan dalam perjalanan, kita lihat berapa banyak orang akhirnya mengibarkan bendera setengah tiang, kita lihat berapa banyak orang mundur teratur, mungkin mereka lupa kita masih hidup di zaman yang hebat, zaman penuh keajaiban.

Kita hidup di zaman keajaiban dan penuh kejutan. Di mana tabir rahasia masa depan dibentangkan untuk dipilih kemudian ditentukan.

Kita hidup di zaman keajaiban dan penuh kejutan. Di mana harapan kemarin hari kadang tak sama dengan kenyataan pada saat ini.

Tapi, kita masih hidup di zaman keajaiban dan penuh kejutan, yang memberikan rasa harap dan cinta yang mendalam untuk mereka yang masih percaya akan terwujudnya kesyukuran. Karena ini zaman keajaiban, zaman milik kita semua.

Dan akhirnya keajaiban sering diberikan kepada mereka yang masih percaya!

 

Saatnya Juga

saatnya juga
saatnya juga

Kau tahu kawan, saatnya juga kuasa Allah sang Pencipta mengajak makhluk untuk kembali memahami bahwasanya kita tiada berdaya, kosong dan tak bermakna. Ada saatnya juga Allah menebang habis ranting-ranting kepongahan dan membuang bongkah-bongkah kesombongan kita dengan begitu cantiknya. Sehingga kita terhempas, sehingga kita terlelah dengan keadaan.

Ada saatnya juga lugunya pagi dan manjanya senja mengajak kita kembali ke masa di mana cerita-cerita seharusnya bermula. Sehingga pikir kita liar tak tentu arah menjalar, sehingga pikir kita terbang tak bertujuan, yang bermuara pada setan dan kebodohan. Na’udzubillah. Continue reading “Saatnya Juga”

Tentang Apa Saja

Tidak perlu menunggu bisa menulis dulu untuk mulai menulis. Tidak perlu lancar untuk memparkir mobil dulu untuk mulai belajar menjadi driver. Dan bermacam ketidak perluan menjadi sempurna yang lain yang kadang tersyaratkan untuk mulai semua yang baik. Kerjakan saja. Lalu akan mulai kita lihat keajaibannya.

Dan nyatanya saya memberanikan diri menulis. Walaupun dengan tetap mengibarkan bendera setengah tiang saya katakan saya berusaha untuk mencurahkan ide yang ada di kepala itu saja. Soal bagaimana bentuknya tulisan saya, apakah sudah sempurna? ah itu nanti saja. Yang penting saya memulai dulu. One step leads to another.

Dan saatnya saya tuliskan beberapa tulisan. Sekedar catatan ringan untuk diri pribadi : Continue reading “Tentang Apa Saja”

Beda Mata, Beda Dunia

pandangan orang di dalam dan di luar lapangan nyatanya sering beda. Sering berbeda nyatanya.

Berbeda cara pandang, berbeda cara merasakan.

Saya beberapa bulan ini telah menyaksikan 2 kali kejadian yang dinamakan demo. Ada yang secara langsung ada pula yang lewat media. Mungkin njenengan berujar tentang betapa sedikitnya perbendaharaan berita demonstrasi yang saya miliki. Baiklah biar kukatakan kepada njenengan semua wahai pembaca blog yang budiman bahwasanya saya sama seperti anda, berusaha membentuk dan menikmati dunia sedamai dan senyaman mungkin, tanpa kekerasan, penuh kesejukan, ah indahnya.

Kembali ke hal ihwal soal dua demo yang saya lihat. Demo yang pertama bertajuk atawa bertema tentang suatu sebab yang beraroma agama. Perbedaan keyakinan pada suatu amalan. Ketidaksefahaman dua kelompok akan amalan. Saya sulit untuk menjelaskannya di ranah ini. Mungkin suatu saat nanti ada kesempatan untuk membicarakannya. Para pendemo kelihatan geram. Dan saya senyum dan tetap diam.

Demo yang kedua terjadi pada sebuah akademisi. Untuk yang masalah ini saya tidak begitu faham sebab musabab. Mereka kelihatan geram smbil berteriak hebat untuk membakar gedung. Teriakan khas para demonstran mahasiswa, “Bakar! Bakar! bakar rektorat, bakar rektorat sekarang juga”. Dan saya memfoto, diam dan berlenggang bersama seorang kawan.

Dan sore, 4 Februari 2012. Ketika hujan mulai bersekutu dengan senja. Ditambah tamparan dingin udara. Saya melihat beberapa pemuda, perkasa, gagah, mungkin berumur kisaran smp hingga sma. Berlari, bersegera, mengejar, bergegas untuk apa? Bukan untuk mengejar cita-cita atau apalah namanya, namun untuk bersegera mengejar truk yang bersedia memberi tumpangan. Mereka begitu bersemangat. Bersemangat mencari tumpangan untuk menuju stadion yang kebetulan pada saat itu ada tim jagoan mereka yang bakal tampil. Dan saya diam dan tetap berkendara.

Apa yang sama? Ternyata kesamaan yang paling nyata adalah saya terposisikan sebagai pihak yang melihat kejadian bukan sebagai pelaku kejadian.

Dan hal inilah yang menjadikan semuanya berbeda. Berbeda dalam beberapa pandangan, dalam beberapa peran. Perbedaan ini pula yang menjadikan satu pihak bisa lebih melihat apa yang tidak bisa dilihat pihak lain. Satu pihak akan lebih terhijab terhadap akan suatu hal dibanding pihak lain.

Begitulah seterusnya. Akan selalu ada beda. Beda dunia, beda pula cara memaknai dunia. Saudara pembaca blog yang berbahagia, akan selalu begitu, apa yang kita rasakan belum tentu akan dirasa oleh pihak selain kita. Apa yang kita ucapkan belum tentu mau untuk orang lain ucapkan tentu saja. Apa yang kita rasa benar juga pastinya tidak mesti dirasa benar oleh orang selain kita. Karena selalu ada beda. Beda dunia, beda pula cara memaknainya.

Ada benarnya juga ketika kita harus beserta dengan teman-teman kita. Teman-teman tempat kita bercermin tentang diri ini. Adakah sisi yang tidak bisa kita lihat yang ternyata bisa tertangkap jelas oleh teman-teman sekitar kita.

Agar kita bisa melihat dunia tidak hanya dari sisi kita semata, agar kita bisa tahu bahwasanya sisi lain kita perlu banyak pembenahan.

– Yogyakarta, untuk semua kawan

Milestone

Kita memang butuh yang namanya milestone. Tonggak sejarah.

Milestone untuk memperlihatkan berapa jauh kita telah melangkah, berapa pencapaian yang sudah kita wujudkan pencapaiannya, berapa tujuan yang belum kita capai kewujudannya, berapa kerja yang sudah atau belum kita lakukan, dan yang paling penting tentunya berapa syukur yang seharusnya kita panjatkan. Kepada Allah tentunya.

Tonggak sejarah yang bisa kita ukirkan di mana saja, di buku, di blog atau di mana saja, tulis saja, ukir saja, lalu suatu waktu kita akan menilik kembali kepada ukiran lama kita. Setelah beberapa lama.

Dan pada saatnya juga kita akan tersenyum indah untuk menghatur syukur betapa luar biasanya nikmat, rencana dan misteri yang Allah berikan pada hidup kita ini. Allahuakbar.

Mungkin kita akan menulis tentang warna hidup kita sekarang ini, ungu, hijau yang kekuning-kuningan, abu-abu samar.

Mungkin juga kita akan menggambarkan pola juga, garis-garis tak berpola, berputar-putar. Tulis saja, gambar saja. Mungkin pola dan warnanya menunjukkan kegamangan. Tulis saja. Karena saat itu sejarah memang baru mengajak anda menelusuri jejak zaman seperti itu.

Karena semua ada masanya. Karena semua ada jalannya. Maka lalui dan nikmati saja kawan.

#minggu-jalan-zaman-solo-jogja

Wanita-wanita Muslimah Pengukir Sejarah

FlowerDan pada saatnya biarkan saya mulai bercerita tentang beberapa wanita pengukir sejarah. Beberapa saja, iya beberapa saja.

Asma’ Binti Abu Bakar

Asma’ Binti Abu Bakar, siapa itu Asma’ binti abu Bakar?

Dialah seorang wanita mulia yang ikut serta dalam hijrah ke Madinah. Dia dikenal sebagai seorang wanita yang cerdas dan berkemauan kuat.

Asma’ binti Abu Bakar lebih tua sepuluh tahun dibandingkan dengan Aisyah Ummul Mukminin. Continue reading “Wanita-wanita Muslimah Pengukir Sejarah”