Semacam Ospek yang Rumit

OspekSemacam Kakak Kelas melakukan semacam OSPEK.

Semacam OSPEK dilakukan untuk menambah semacam keakraban antar mahasiswa baru.

Mahasiswa baru semacam berlari lari setelah melakukan sholat.

Semacam suara sirine dari semacam Kakak Kelas, semacam memanggil Mahasiswa Baru yang baru saja selesai sholat, tanpa sempat berdzikir, tanpa sempat bertenang.

Dan tetiba semacam Kakak Kelas sudah menunggu di semacam tempat luas, lah-lah semacam Kakak Kelas ini tidak sholat dulu juga ya?

Semacam OSPEK tahun kemarin juga sama, semacam mahasiswa baru semacam dibentak dan dimaki. Mungkin tahun ini semacam itu juga.

Semacam bentakan dari semacam Kakak Kelas saat ini bisa jadi semacam cita-cita tak sadar dari semacam bentakan OSPEK sebelumnya, dari semacam Kakak Kelas sebelumnya.

Semacam ‘candaan’ dari semacam Kakak Kelas kepada mahasiswa baru pada semacam OSPEK saat ini, bisa jadi menjadi semacam dendam untuk semacam OSPEK selanjutnya.

Rumit…memang rumit. Memaafkan tapi tidak melupakan.

gambar : anjarnurhadi.wordpress.com

 

Jangan Mengganggu ya Nak

http://pontianak.tribunnews.com/foto/bank/images/kembang-api.jpgRafif anak kecil saya berumur 8 bulan lebih. Lebih beberapa hari, beberapa minggu. Biasanya rafif tidur sekitar pukul 8 malam, jika malam tiba. Dengan beberapa prosesi menjelang tidur tentunya.
Malam hari inilah fase tidur panjang baginya. Meraup anugrah malam dari sang Pencipta, kemudian menyebarkan kegembiraan pagi sesudahnya. Bagi kami orangtua, juga lingkugannya. Baca Selanjutnya…

Bukan Kita yang Menonton, Kita yang Ditonton

Melihat barang sebentar kotak berisi gambar menyala di rumah: televisi. Kadang hingar kita dibuatnya. Kadang geram sempat juga dititipkannya. Kadang pilu pernah ditiupkannya juga. Ternyata media cukup hebat juga ‘mengacau’ kita.

Melihat televisi yang berisikan cerita, demi cerita. Tentang cerita keluarga yang berputar-putar masalahnya. Mengurusi anak, perebutan kekuasaan dan entah apa lagi lainnya.

Tentang cerita rumah tangga yang dikira mau selesai, ternyata eh ternyata berangsur lama dan semakin rumit saja. Dan hebatnya, sang penonton bisa dibuat ikut serta berperang di dalamnya.

Dan tentang pilpres 2014 ini seperti nya juga merupakan cerita juga. Karena tampaknya informasi itu tidak perlu kita cari lagi. Mereka dengan suka rela, berlalu lalang di hadapan kita. Dan seperti layaknya cerita televisi yang kadang seperti sinetron juga. Kadang kita hingar, kadang kita pilu dan tidak jarang kita ikut geram. Baca Selanjutnya…

Banjir, Ibu dan Rem

Banjir

Dan begitulah, kemarin siang saya sempat merasakan banjir. Sekitar jalan solo, menuju ke arah Ambarukmo Plaza Yogyakarta, dari arah janti. Walaupun tidak seberapa, tapi cukup menyusahkan dan cukup membuat ramai kondisi jalan. Antrian panjang mobil yang berjajar. Motor berjalan pelan, mengantisipasi supaya tidak tergelincir, dan orang-orang yang melihat pemandangan keadaan. Ada yang berfikir sebagai suatu keprihatinan, namun mungkin ada yang berfikir merupakan suatu hiburan -semoga bukan kita-.

Walaupun tidak sampai menenggelamkan rumah tapi cukup membuat rumit keadaan. Walaupun tidak separah jakarta -semoga Allah memudahkan negara kita menghadapi bencana-. Tapi cukup membuat khawatir suasana.

Ibu

Tetiba saja saya teringat ibu saya. Baca Selanjutnya…