Mengejar Rasa Syukur

Beberapa hari yang lalu Istri saya sakit. Ketika itu kebetulan kami sedang pulang ke Klaten. Layaknya seorang ibu yang sedang sakit, maka yang beliau fikirkan dan saya fikirkan adalah anak kami, Rafif.

Bagaimana tidak, tentu sang anak akan begitu nyamannya bila ada Ibu yang sedia memenuhi segala kebutuhannya. Nah, karena Istri saya sedang sakit, walhasil sayalah yang menggantikan peran Istri saya dalam memenuhi kebutuhan Rafif anak saya. Tentu saja tidak bisa mengambil alih sepenuhnya, tapi setidaknya saya berusaha. Dan darinya pula, menjadilah kita sadar bahwa beban kerja Ibu luar biasa. Baca Selanjutnya…

Aku Bisa Saja

Aku bisa saja mengutuki pagi yang dingin, karena dengannya, air, udara, tanah dan basahnya ilalang bisa menjadi musuh yang menyergap seketika.

Aku bisa saja mengutuki siang yang hingar, karena dengannya, bumi, udara, suara dan lalu lalangnya penikmat jalan seketika juga membuat derau pikiran.

Aku pun bisa juga mengutuki malam, yang darinya pekat dunia semakin terasa, kejahatan-kejahatan malam menyeruak tiba-tiba.

Aku bisa, dan semestinya aku bisa.

Namun tidaklah tidak. Sudah saatnya juga membuka mata lebih lebar, hati yang terguyur dalam dan lebih dalam, raga yang bertahan lebih lama dan lama, untuk membuka pintu kesadaran seluas luasnya.

Karena akan lebih baiknya jika aku sedikit bersabar lebih lama. Lebih lama barang sebentar. Untuk membuktikan janji kebahagiaan bagi orang yang bersabar.  Bukan untukmu, bukan untuk kau, bukan untuk dirimu. Tapi untuk diriku sendiri, nantinya.

@berbah, sabtu pagi

BBM Langka

Menunggu Putusan MK

Bahkan semua, termasuk hakim MK tadi malampun akan dinanti keputusan MK. MK, Maha Kuasa yang sesungguhnya. Tiada daya, tiada kuasa, tiada tempat berlindung, tiada tempat untuk mengadu. Sendiri, betul betul sendiri.

Lalu bekal apa yang sudah kita bawa untuk menemuiNya? Cukupkah?