Ditulis pada 13 May di
one day, belum ada komentar
Kamera sudah siap, aktor ditata dan diarahkan, penonton sudah disemarakkan. Saatnya acara luar biasa akan ditampilkan. Yakni, Bukan Semaunya.
Perbincangan hangat pun dimulai, antara host dengan bintang tamu, begini kira kira. Saya tidak bisa menyampaikan secara komplit, karena begitu luar biasanya televisi televisi kita :
Host : ok masih di Bukan Semaunya!! Kembali ke ada ada saja. Untuk eyang Margorapirso mengapa bisa tahu kalau si Ginagini ini adalah anak kecebong? Monggo
Eyang Margorapirso : Begini ya mas host, si ginagini ini memang luar biasa. Dia ini adalah percampuran antara kecebong dengan manusia, sehingga punya kelincahan seperti kecebong dan kesempurnaan seperti manusia.
Host : wah wow..wow sungguh luar biasa Baca Selanjutnya…
Ditulis pada 25 Jul di
one day, belum ada komentar

Hilangkan benci, perbanyak kasih
Ditulis pada 14 Dec di
one day, 2 komentar
Bahagia sesungguhnya sederhana.
Namanya hafis, anak sehat nan menggemaskan. Kadang takut manakala mendengar nama om adi disebutkan. Kadang malah mendekat dekat. Memang anak kadang-kadang. Gembira, bahagia tak terkira ketika satu kunang-kunang malam tertangkap. Lalu berlari riang menuju kakak sepupunya : Zaki. Cerita ke sana kemari. Soal kebahagiaan. Soal kunang kunang.
Bahagia sesungguhnya sederhana.
Melihat anak-anak belajar baca Al Quran di suatu tempat. Bisa berlari ke sana kemari. Membeli sebungkus somay sederhana, kemudian bercerita dan bercerita. Kemudian ketika saatnya materi TPA dilaksanakan, pembina datang, anak-anak antusias memperhatikan. Sesederhana itu.
Bahagia sesungguhnya sederhana.
Ketika perjalanan dengan rintik hujan, ditemani gelayut angan yang mengembang. Dihantam angin dari penjuru muka. Tapi bisa saja bahagia itu datang. Dengan anak-anak kecil yang mencandai hujan. Atau dengan kesyukuran adanya mantol di tangan. Baca Selanjutnya…
Ditulis pada 19 Nov di
menyemai makna, belum ada komentar
Kembali menyepakati bahwa hidup adalah amanah merupakah hal yang melegakan.
Bahwa hidup dengan segala muatan yang terangkul dalam lingkup keberadaannya merupakan amanah semata. Benar-benar amanah semata. Tak peduli, itu kekayaan, ketampanan, orang tua, anak-anak dan lainnya. Itu hanyalah amanah semata.
Tak perlu merasa risau tentang beda amanah yang ditanggungkan kepada masing masing kita. Karena ‘Sang Pemberi Amanah’ lebih paham makhluk mana yang kiranya perlu diberi amanah serupa. Dia Maha Tahu kita yang seringnya Sok Tahu.
Sok Tahu tentang hidup kita yang seharusnya kita terima, sok tahu tentang bagaimana harusnya kita mendapati hidup kita, dan ke-sok tahuan lainnya. Sok tahu tentang hal ihwal jikalau kemarin begini maka akan jadi begitu. Sok tahu, kita sering sok tahu.
Tapi ingatlah ingat. Tidak maksud hati dari tulisan ini untuk pasrah menerima keadaan. Karena amanah merupakan anugerah, semua hal adalah anugerah. Wujudkan syukur dan sabar dari setiap amanah yang diberikan dengan kerja besar untuk ‘maraih hati’ sang Pemberi Amanah. Bekerja, berdoa, berbaik sangka.
Maka Sang Maha Agung akan melihat kerja-kerja kita, kalau kiranya sudah mulai berguguran asa kita…Ahh mudah saja, Allah kita yang memiliki dunia, langit dan segalanya, masih dan masih bersiap menuntun kita. Berdoa saja, luapkan segala. Dan akan kita lihat selanjutnya kawan, Allah punya cara sendiri untuk menunjukkan kebijaksanaanNya.
Selamat merayakan hidup!
Ditulis pada 14 Nov di
menyemai makna, belum ada komentar
Kagum untukmu ya Rosul, sungguh sekagum kekaguman. Dan masih untukmu ya Rosul.
Sebaik-baik anak kepada orang tua, sebaik-baik tetangga kepada tetangganya, sebaik-baik manusia kepada manusia lainnya, sebaik-baik mertua kepada menantunya, sebaik-baik menantu kepada mertuanya, sebaik-baik kakek kepada cucu-cucunya. Dan sebaik-baik manusia kepada keluarganya. Dan sebaik-baik suami kepada istrinya. Dan sebaik-baik hamba kepada Tuhannya.
Mari meminta sangat kepada Rabb Tuhan kita, supaya kita bisa mengambil sebanyak banyak akhlaq Rosul kita. Berat memang. Tapi mari berusaha semaksimalnya, untuk perjumpaan dengannya. Semangat!!